Bacaan : Yesaya 9:1-6
Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember? Tidak! Kita membaca bahwa
saat Yesus lahir, para gembala "menjaga kawanan ternak mereka pada
waktu malam" (Lukas 2:8). Dan, para gembala menggembalakan domba di
padang saat malam hari hanya pada musim panas. Padahal, Desember
adalah musim dingin. Artinya, kelahiran Yesus pasti terjadi pada
bulan-bulan musim panas, meski tak ada yang mengetahui waktunya
secara pasti. Tanggal 25 Desember dijadikan hari Natal karena hari
itu merupakan perayaan berbaliknya matahari ke belahan bumi utara. Di
tengah musim dingin yang gelap, terang muncul; Yesus lahir sebagai
Terang Dunia.
Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan perayaan datangnya
Yesus ke dunia sebagai Sang Terang. Kelahiran-Nya membuka babak baru:
dunia yang dikuasai kegelapan dosa kini melihat Terang yang besar. Di
mana terang hadir, di situ tak ada lagi kegelapan. Apa akibatnya?
Pertama, umat manusia dilepaskan dari belenggu dosa yang menekan dan
menindas (ayat 3). Kedua, ada damai sejahtera yang mampu mengenyahkan
perang dan perseteruan (ayat 4) serta ketidakadilan (ayat 6).
Dua ribu tahun sudah Yesus lahir. Mengapa penindasan, perang, dan
ketidakadilan masih ada? Karena masih banyak orang belum membuka hati
bagi Sang Terang. Manusia "melihat" Terang itu, tetapi tidak
menyambut-Nya, sehingga hatinya masih dikuasai kegelapan. Tugas kita
adalah memperkenalkan terang Kristus kepada sesama melalui tindakan
kasih. Itulah inti perayaan Natal. Bukan sekadar menyalakan lilin
atau pohon terang, melainkan hidup dalam terang dan membawa orang
mengenal Sang Terang -JTI
KEGELAPAN HANYA BISA TERUSIR
JIKA TERANG DIPERSILAKAN HADIR
|