Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Renungan Harian > ANJING MENGGONGGONG
< Juli
2009
>
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  


Cari di Arsip e-Renungan Harian Cari di e-RH
Lihat Arsip e-Renungan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Renungan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs Renungan Harian

Rabu, 22 Juli 2009

Bacaan Setahun : Yesaya 46-48
Nats : Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya (Kejadian 6:22)

ANJING MENGGONGGONG

Bacaan : Kejadian 6:9-22

"Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu." Pepatah lama ini tepat untuk menggambarkan upaya tidak kenal lelah dari Chaerudin atau Bang Idin. Cita-citanya untuk menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan di Jakarta Selatan awalnya mendapat tentangan, kecaman, dan cemoohan. Ia dianggap gila merancang ide mustahil itu. Maklum pada 1980, bantaran Kali Pesanggrahan benar-benar kumuh dan tidak terurus; sampah bergunung-gunung teronggok, berdampingan dengan tembok tinggi para juragan tanah. Namun, itu dulu. Kini kalau Anda melewati Pondok Cabe Udik sampai Pondok Pinang, sejauh mata memandang pepohonan hijau terlihat menyegarkan mata.

Hasil jerih lelah Bang Idin selama lebih dari lima belas tahun berbuah hasil. Di jalur sepanjang 30 km, seluas 35 hektar, sekarang telah ditanami lebih dari 60 ribu spesies tanaman. Sungguh sebuah perjuangan keras dan tidak mudah. Atas jerih lelahnya itu, Bang Idin menerima penghargaan di bidang lingkungan dari pemerintah.

Hal yang sama dialami oleh Nuh. Tidak ada hujan, tidak ada angin, Allah memerintahkannya membuat bahtera raksasa. Nuh taat. Walaupun bisa jadi ia harus menerima cemoohan dan hinaan orang-orang di sekitarnya. Usaha Nuh tidak sia-sia. Berkat bahteranya, ia dan keluarganya, serta binatang-binatang, selamat dari amukan air bah.

Ada saatnya kita harus melakukan sesuatu yang, mungkin bagi banyak orang, "bodoh". Kita dicemooh dan diolok-olok. Jangan undur. Jalan terus, sepanjang kita meyakininya dengan sepenuh hati dan menjalankannya dengan tulus. Bukankah mereka yang tertawa belakangan adalah pemenang yang sesungguhnya? -AYA

EJEKAN DAN CEMOOHAN

JANGAN MENYURUTKAN LANGKAH KITA
Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran