Bacaan : Kejadian 6:9-22
"Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu." Pepatah lama ini tepat
untuk menggambarkan upaya tidak kenal lelah dari Chaerudin atau Bang
Idin. Cita-citanya untuk menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan di
Jakarta Selatan awalnya mendapat tentangan, kecaman, dan cemoohan. Ia
dianggap gila merancang ide mustahil itu. Maklum pada 1980, bantaran
Kali Pesanggrahan benar-benar kumuh dan tidak terurus; sampah
bergunung-gunung teronggok, berdampingan dengan tembok tinggi para
juragan tanah. Namun, itu dulu. Kini kalau Anda melewati Pondok Cabe
Udik sampai Pondok Pinang, sejauh mata memandang pepohonan hijau
terlihat menyegarkan mata.
Hasil jerih lelah Bang Idin selama lebih dari lima belas tahun
berbuah hasil. Di jalur sepanjang 30 km, seluas 35 hektar, sekarang
telah ditanami lebih dari 60 ribu spesies tanaman. Sungguh sebuah
perjuangan keras dan tidak mudah. Atas jerih lelahnya itu, Bang Idin
menerima penghargaan di bidang lingkungan dari pemerintah.
Hal yang sama dialami oleh Nuh. Tidak ada hujan, tidak ada angin,
Allah memerintahkannya membuat bahtera raksasa. Nuh taat. Walaupun
bisa jadi ia harus menerima cemoohan dan hinaan orang-orang di
sekitarnya. Usaha Nuh tidak sia-sia. Berkat bahteranya, ia dan
keluarganya, serta binatang-binatang, selamat dari amukan air bah.
Ada saatnya kita harus melakukan sesuatu yang, mungkin bagi banyak
orang, "bodoh". Kita dicemooh dan diolok-olok. Jangan undur. Jalan
terus, sepanjang kita meyakininya dengan sepenuh hati dan
menjalankannya dengan tulus. Bukankah mereka yang tertawa belakangan
adalah pemenang yang sesungguhnya? -AYA
EJEKAN DAN CEMOOHAN
JANGAN MENYURUTKAN LANGKAH KITA
|