Bacaan : Filipi 1:20-26
Seorang pemuda Palestina melilit tubuhnya dengan rangkaian bom.
Keringat dingin membasahi wajahnya. Ia tahu, sebentar lagi ia akan
mati. Namun, tekadnya sudah bulat: ingin membalas kejahatan musuh.
Lalu dinaikinya sebuah bus umum. Ditekannya sebuah tombol. Bom itu
meledak. Tubuhnya pun hancur lebur. Bagi kelompoknya, pemuda ini
dipandang sebagai pahlawan, sebab ia berani mati untuk keyakinannya.
Namun, ada yang jauh lebih susah dan lebih heroik daripada sekadar
berani mati, yakni berani hidup. Tegar menghadapi hidup yang penuh
penderitaan dengan tabah.
Rasul Paulus bukan hanya berani mati, melainkan juga berani hidup.
"Bagiku hidup adalah Kristus," katanya. Jadi, alasan terkuat untuk
hidup adalah untuk melakukan perbuatan yang memuliakan Kristus:
melayani jemaat, menolong sesama, serta memberitakan kasih Allah.
"Mati adalah keuntungan." Untung, sebab bisa bertemu Kristus muka
dengan muka dan beristirahat dari jerih lelah di dunia. Jadi, ia
berani mati, tetapi juga berani hidup. Namun, Paulus lebih memilih
untuk hidup "karena kamu". Karena ia masih ingin berbuat banyak hal
demi menjadi berkat bagi sesamanya. Ia bergairah hidup karena agenda
kerjanya masih penuh citacita mulia.
Menjadi orang yang berani mati saja tidak cukup. Kita juga harus
berani hidup. Berani menjalani hari demi hari dengan penuh semangat,
walaupun banyak kesulitan menghadang. Untuk itu, kita perlu memiliki
visi hidup seperti Paulus. Ia hidup bagi Tuhan dan sesama, tidak
sibuk untuk diri sendiri saja. Akibatnya, hidup senang, mati pun
tenang -JTI
BERIKANLAH HIDUPMU BAGI SESAMA
MAKA TIAP HARI AKAN JADI BERMAKNA
|