Bacaan : Nehemia 5:14-19
Selamat atas pernikahan putramu minggu lalu," kata Pak Badu sambil
menyalami tangan Pak Indra seusai kebaktian. "Maaf, saya tidak datang
ke pestamu, soalnya saya tidak diundang!" sambungnya ketus. Rupanya
Pak Badu tersinggung. Pikirnya, "Kalau ia menganggapku teman baik,
seharusnya aku diundang." Ia tidak paham bahwa Pak Indra sedang
didera kesulitan keuangan, sehingga hanya mampu menyelenggarakan
pesta kecil untuk kerabat dekat.
Dalam relasi dengan sesama, orang biasanya menuntut diperlakukan
sesuai dengan statusnya. Status istimewa sebagai suami, istri, teman
baik, penguasa, atau majikan membuat kita merasa berhak menerima
perlakuan khusus. Kita marah jika mereka tidak memberi apa yang
menjadi hak kita. Nehemia tidak demikian! Dua belas tahun sudah ia
diangkat menjadi Bupati. Sesuai statusnya, ia berhak mendapat
perlakuan khusus dari rakyat. Mereka wajib membayar upeti, apalagi
Nehemia memerintah dengan penuh dedikasi. Namun, Nehemia tidak pernah
mengambil jatah itu. Mengapa? Karena ia memahami bahwa "pekerjaan itu
sangat menekan rakyat" (ayat 18). Pembangunan tembok Yerusalem
menguras tenaga dan pikiran rakyat. Semakin Nehemia belajar mengerti
kesusahan mereka, semakin ia tidak mau menuntut bagiannya.
Banyak perselisihan dalam keluarga dan masyarakat terjadi karena
masing-masing pihak ingin diperlakukan khusus. Kadang kala kita
menuntut lebih dari apa yang orang lain bisa berikan. Andaikan saja
Anda bersikap seperti Nehemia: belajar memahami orang lebih daripada
menuntut, pasti relasi Anda menjadi lebih indah! -JTI
BERJUMPA DENGAN ORANG YANG TAK SUKA MENUNTUT
SERASA BERJUMPA DENGAN KRISTUS YANG LEMAH LEMBUT
|