Bacaan : Pengkhotbah 7:1-7
Rumah duka biasanya terkesan suram, kotor, pengap, dan menyeramkan.
Untuk menghapus kesan itu, kini mulai banyak dibangun rumah duka
modern yang indah, bersih, berpendingin udara, bahkan dilengkapi alat
musik. Namun, ini tidak membuat orang lebih suka pergi ke sana,
apalagi berlama-lama di situ! Manusia enggan berhadapan dengan
kematian dan suasana duka.
Melihat kenyataan ini, nasihat Pengkhotbah terdengar tidak lazim.
Menurutnya, lebih baik pergi ke rumah duka daripada pergi ke rumah
pesta. Lebih baik bersedih dan meratap di rumah duka, ketimbang
tertawa di rumah pesta. Mengapa? Karena kedukaan mengajarkan kita
banyak hal. Kita disadarkan bahwa hidup ini singkat. Semua orang akan
mati, termasuk kita. Mumpung masih ada kesempatan hidup, pakailah
untuk berbenah diri! Keluarga yang meratap juga belajar banyak. Rasa
kehilangan mendorong mereka lebih bergantung pada Tuhan. Jadi, di
rumah duka kita belajar hidup bijak. Pelajaran ini tidak akan kita
dapatkan di rumah pesta. Di situ orang diajak tertawa. Melupakan
segala kesusahan dan realitas hidup. Dibawa bersenang-senang sampai
lupa daratan!
Kita banyak belajar tentang Tuhan dan iman justru di saat sulit,
bukan di saat bersenang-senang. Oleh karena itu, kemalangan ada
gunanya. Tidak harus dihindari. Apakah Anda selalu berusaha
menghindar dari penderitaan dengan segala cara? Saat Tuhan
menempatkan Anda di "rumah duka", apakah Anda lari ke "rumah pesta"?
Lihatlah kemalangan sebagai kesempatan emas untuk belajar sesuatu
dari Tuhan! -JTI
TUHAN MEMBUAT HIDUP KITA KAYA
DENGAN MENGAJAR KITA MENCAMPUR CANDA DAN AIR MATA
|