Bacaan : 1Korintus 9:16-23
Tiap minggu, seorang perangkai bunga menyiapkan rangkaian bunga untuk
dipajang di altar. Gereja hanya memberinya dana sedikit. Tidak jarang
ia harus menombok demi mendapat bunga terbaik. Tak heran, rangkaian
bunganya selalu tampak elegan dan berselera tinggi. Dari sudut
bisnis, ia rugi. Dengan dana minim, buat apa bersusah payah? Namun,
baginya ini merupakan pengabdian, bukan pekerjaan. Rangkaian bunganya
adalah persembahan, bukan sekadar barang jualan.
Dalam bekerja, umumnya orang mementingkan hak. Kerja keras harus
dibayar dengan upah pantas dan aneka fasilitas. Pengabdian lebih dari
itu. Melibatkan loyalitas dan pengorbanan. Rasul Paulus, contohnya.
Ketika memberitakan Injil, ia tidak mau bergantung pada orang lain,
meski biasanya jemaat memang mendukung penghidupan para rasul. Uang
yang menjadi haknya tidak diambil karena ia tidak mau membebani
jemaat. Akibatnya, ia harus berjualan tenda sebagai usaha sampingan.
Repot! Namun, semua itu ia jalani dengan sukacita. Sedikit pun tidak
merasa terpaksa. Paulus tidak hitung-hitungan karena ia memandang
pekerjaannya sebagai pengabdian.
Pada zaman modern ini, kata "mengabdi" kian menjadi usang. Para
pebisnis berusaha mendapat untung maksimal dengan upaya minimal.
Karyawan kerap menuntut kenaikan upah dan fasilitas, tetapi bekerja
tanpa loyalitas. Pelayanan di gereja pun kerap dilakukan orang ala
kadarnya, tanpa pengorbanan. Andai kita memandang pekerjaan sebagai
kesempatan dan berkat, seperti Paulus, pasti cara kita bekerja akan
berbeda. Dengan sepenuh hati. Seperti untuk Tuhan, bukan untuk
manusia --JTI
PEKERJAAN YANG DILAKUKAN DENGAN SEPENUH HATI
MEMBERI KEPUASAN LEBIH DARI SEKADAR MENERIMA GAJI
|