Bacaan : Yakobus 5:1-6
Steve Wynn sangat beruntung. Tahun 1997, ia membeli sebuah lukisan
karya Pablo Picasso senilai 47 juta dolar di balai lelang Christie.
Belum sampai 10 tahun, ia bisa menjualnya lagi seharga 139 juta
dolar. Tiga kali lipat! Transaksi itu bakal masuk rekor penjualan
barang seni termahal di dunia. Sayangnya, saat lelang terjadi, Wynn
berdiri di dekat lukisan itu dan tanpa sengaja menyenggolnya dengan
sikutnya. Celaka! Lukisan itu robek sepanjang 15 cm, tepat di
tengahnya. Batallah penjualan termahal itu! Dalam sekejap, 139 juta
dolar menguap dari mata Wynn.
Betapa fana harta kekayaan. Ia bisa menguap dalam sekejap. Itulah
pesan yang disampaikan dalam Yakobus 5. Jika seseorang mengandalkan
harta sebagai jaminan masa depan, ia perlu menangis dan meratap.
Mengapa? Sebab kekayaan bisa tiba-tiba saja meninggalkannya. Rapuh.
Kalaupun seumur hidup harta bisa terjaga, saat mati ia tak dapat
dibawa pergi. Harta tak bisa dijadikan modal sukses di akhirat.
Bahkan, kelak Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita atas
bagaimana cara kita mendapatkan dan mengelola harta di bumi. Menahan
upah buruh, misalnya (ayat 4), adalah pelanggaran serius di mata
Tuhan. Mencari harta dengan cara salah di dunia akan membuat kita
melarat di akhirat!
Setiap orang perlu harta, maka tidak salah jika kita mencari uang.
Menjadi kaya pun tidak masalah. Namun, jangan jadikan harta
segala-galanya, sehingga kita rela menindas sesama, menipu, atau
berkelahi dengan saudara demi mendapatkannya. Sebaliknya, jadikanlah
harta sebagai alat berkat. Alat untuk menyatakan kasih Allah dengan
menolong sesama -JTI
ALKITAB TIDAK MENENTANG KEMAKMURAN
DIA HANYA MINTA AGAR KEMAKMURAN ITU DIBAGIKAN
|