Bacaan : Yohanes 1:35-42
Rela dan tetap bersukacita dengan posisi "di belakang layar",
sungguh tidak gampang. Terlebih di dunia di mana persaingan yang
terjadi begitu ketat. Termasuk di gereja. Banyak orang
berlomba-lomba untuk menjadi yang terkemuka. Bahkan, untuk itu tidak
jarang orang memakai "gaya katak": ke atas menyembahnyembah, ke
bawah menendang-nendang.
Namun, Andreas tidak demikian. Ia adalah salah satu dari dua murid
Tuhan Yesus yang mula-mula (ayat 40). Ia juga yang membawa Petrus
kepada Tuhan Yesus (ayat 42). Akan tetapi dalam perjalanan
selanjutnya, justru Petrus yang lebih banyak ditonjolkan. Berulang
kali Alkitab menyebut Andreas dengan embel-embel "saudara Simon
Petrus" -- menunjukkan bahwa Petrus selalu membayanginya.
Ia juga tidak termasuk murid yang utama. Ketika Tuhan Yesus naik ke
gunung untuk dimuliakan, yang dibawa serta ke sana adalah Petrus,
Yohanes, dan Yakobus (Matius 17:1). Begitu juga ketika Dia
menyembuhkan anak perempuan Yairus (Lukas 8:51) dan ketika Dia di
Taman Getsemani (Markus 14:33).
Andreas bisa saja menyesalkan hal ini. Sebagai murid mula-mula dan
yang membawa Petrus, ia punya alasan untuk berharap mendapat tempat
utama dalam kelompok para murid. Namun, rupanya posisi terkemuka,
kedudukan, dan kehormatan tidak pernah menjadi target Andreas.
Baginya, yang penting adalah mengikuti dan melayani Gurunya sebaik
mungkin. Andreas adalah contoh orang yang tidak mementingkan
kedudukan atau status nomor satu. Sebaliknya, dengan rendah hati dan
tulus, ia rela berdiri di belakang -AYA
KERENDAHAN HATI ADALAH AWAL KEHORMATAN
|