Bacaan : Lukas 8:1-3
Seorang rekan pendeta dari Myanmar berkata bahwa di negerinya
perempuan tidak diperbolehkan memimpin gereja. Jangankan menjadi
pendeta, menjadi penatua di gereja pun tidak lazim. Demi
melestarikan budaya patriarkat ini, warga gereja memakai ayat
Alkitab. Perkataan Paulus bahwa "perempuan harus berdiam diri"
dijadikan dasar pembenaran. Padahal faktanya, potensi dan peran
perempuan sangat besar dalam gereja.
Lukas menceritakan, ketika Yesus dan para murid melayani, sekelompok
perempuan mendukung mereka. Memang mereka tidak tampil di panggung.
Perannya tak terlihat, tetapi sangat menentukan. Di situ ada Maria
Magdalena. Setelah dipulihkan dari masa lalu yang gelap, ia memberi
hidupnya untuk melayani Tuhan. Ada juga istri pejabat bernama
Yohana. Dengan kekayaannya, ia berusaha mencukupi kebutuhan
rombongan Yesus. Para perempuan ini memakai kemampuan dan bakat
mereka untuk melayani Tuhan. Bahkan, saat Yesus disalib dan para
murid melarikan diri, mereka justru bertahan. Mendampingi Yesus
sampai mayat-Nya dibaringkan (Lukas 23:49,55). Ketika Yesus bangkit,
merekalah yang pertama melihat-Nya dan menjadi saksi kunci
kebangkitan-Nya (Lukas 24:10). Melalui merekalah berita Paskah
tersebar ke mana-mana!
Dewasa ini, peran perempuan tak kalah pentingnya dalam hidup
bergereja. Karena para suami sibuk di tempat kerja, para istrilah
yang punya kepedulian tinggi terhadap pelayanan gereja. Mengurus
konsumsi. Melawat yang sakit dan berduka. Mengatur rumah tangga
gereja. Bahkan, memimpin jemaat. Sungguh, peran perempuan tak boleh
dipandang sebelah mata -JTI
WANITA PUN BERPERAN
DALAM RENCANA KESELAMATAN ALLAH BAGI DUNIA INI
|