Bacaan : Wahyu 4:1-11
Sepasang suami-istri menjalani hidup sehat, antara lain dengan
melakukan diet ketat, nyaris vegetarian. Alkisah, mereka mencapai
umur panjang dan meninggal bersama-sama dalam usia lanjut. Di surga,
mereka diundang ke perjamuan yang mewah. Aneka hidangan, yang dulu
tak berani mereka sentuh saat masih di bumi, tersaji secara
berlimpah. Ternyata di surga mereka tak perlu berpantang makan.
Mendengar penjelasan itu, sang suami mengamuk pada istrinya, "Kalau
kau tidak memaksaku makan sereal hambar itu, mungkin dua puluh tahun
lalu aku sudah sampai di sini, tahu nggak?"
Pernah membayangkan surga seperti cerita di atas? Kita membayangkan
surga sebagai tempat untuk melampiaskan keinginan yang kita kekang
selama di bumi. Namun, jika kita berfokus pada keinginan diri, itu
berarti kita sedang membayangkan surga yang lain dari yang diulurkan
Kristus.
Kerajaan Surga disebut juga Kerajaan Allah, bukan Kerajaan "aku".
Surga berpusat kepada Allah sebagai Raja, sang pemegang kedaulatan
tertinggi (ayat 8-11). Surga bukan tempat pelampiasan kehendak diri,
melainkan tempat kehendak Tuhan digenapi. Di surga, kita dapat
melakukan sepuasnya bukan apa yang kita ingini, melainkan apa yang
semestinya kita lakukan sebagai anak Allah. Dan, justru dengan
mematuhi kehendak Allah itulah kita dipuaskan.
Hebatnya, hidup dengan cara surgawi bisa kita mulai saat ini. Yakni
dengan belajar hidup tidak egois atau sekehendak hati. Sebaliknya,
kita belajar untuk selalu mempertimbangkan masakmasak; apakah sikap,
ucapan, dan tindakan kita selaras dengan kehendak Allah -ARS
KERAJAAN SURGA ADALAH KERAJAAN ALLAH, BUKAN KERAJAAN AKU
|