Bacaan : 1Korintus 12:12-26
Tahun 2003-2004, Real Madrid dari Spanyol adalah kesebelasan
bertabur bintang. Dalam daftar 10 pemain terbaik yang dikeluarkan
FIFA (organisasi sepakbola dunia), lima di antaranya adalah pemain
Madrid: Zidane, Ronaldo, Figo, Carlos, dan Beckham. Pemain lokal
mereka juga tidak kalah hebat, seperti Raul dan Salgado. Kiper
mereka, Iker Casilas, adalah kiper terbaik kedua di dunia. Mereka
dijuluki Los Galacticos, kesebelasan dari planet lain.
Ironisnya, dalam kurun waktu itu Real Madrid justru mengalami
kegagalan total. Tidak satu pun gelar mereka raih. Bahkan, di Liga
Spanyol mereka hanya menduduki urutan keempat di bawah Valencia,
Barcelona, dan Deportivo La Coruna. Banyak pengamat sepakbola
menilai bahwa penyebab utama kegagalan Madrid adalah ego para
pemain. Status bintang membuat mereka merasa hebat dan ingin
menonjolkan diri. Padahal sepakbola adalah permainan tim.
Dalam pelayanan, ego juga bisa menjadi batu sandungan dan sumber
masalah; keinginan untuk dipuji, untuk menonjol atau tampil, merasa
paling hebat, paling berjasa, dapat merugikan bagi semua. Padahal
pelayanan kristiani adalah pelayanan kolektif. Kita tak dapat
bekerja sendiri, dan selalu membutuhkan orang lain. Paulus
mengumpamakan gereja sebagai tubuh dan anggota-anggotanya. Setiap
anggota mempunyai fungsi dan tempat yang berbeda. Semuanya berharga;
tidak ada yang lebih penting atau kurang penting. Oleh karena itu,
faktor utama dalam melayani bersama adalah bagaimana kita
menyalibkan ego pribadi dan mewujudkan Kristus dalam hidup kita -AYA
SAAT KITA MELAYANI,
APAKAH ORANG LAIN MELIHAT KRISTUS MELALUI KITA?
|