Bacaan : 1Korintus 11:20-31
Rutin artinya biasa. Lazim. Tidak istimewa. Setiap orang tidak bisa
bebas dari rutinitas hidup. Setiap bangun pagi, kita melakukan
kegiatan yang itu-itu juga. Di gereja pun acara kebaktian Minggu
hampir sama. Bisa saja kita mendobrak rutinitas dengan melakukan
hal-hal istimewa: pergi ke tempat asing, ikut panjat tebing, naik
arung jeram atau jet coaster. Namun, saat balik ke rumah, hidup
menjadi rutin lagi!
Tidak ada yang salah dengan rutinitas. Yang keliru adalah terjebak
dalam rutinitas, sehingga semua tugas kita lakukan tanpa
penghayatan. Asal jalan. Dulu, setiap kali beribadah, jemaat
Korintus selalu mengadakan Perjamuan Kasih dan Perjamuan Kudus.
Setelah berjalan lama, mulailah umat terjebak dalam rutinitas.
Perjamuan Kasih sebagai tanda kebersamaan tak lagi dilakukan dengan
kasih. Masing-masing membawa makanan dari rumah, lalu dinikmati
dengan kelompoknya sendiri (ayat 20,21). Begitu pula Perjamuan Kudus
tidak lagi dilakukan dalam kekudusan, sebab orang mengikutinya tanpa
introspeksi diri (ayat 28) dan "tanpa mengakui tubuh Tuhan" (ayat
29). Tanpa menghargai pengurbanan Kristus. Akibatnya, ritual itu
tidak membawa berkat, malah mendatangkan perpecahan dan hukuman.
Supaya tak terjebak dalam rutinitas, setiap tugas dan momen perlu
kita pandang sebagai kesempatan, bukan kebiasaan. Setiap Perjamuan
Kudus adalah kesempatan berbenah diri. Setiap Perjamuan Kasih adalah
kesempatan berbagi kasih. Mengikuti ibadah minggu adalah kesempatan
bersyukur pada Tuhan. Jika tiap saat dipandang sebagai kesempatan,
hidup tak akan terasa membosankan! -JTI
KEMAMPUAN MELIHAT KESEMPATAN
MEMBUAT HAL-HAL BIASA MENJADI LUAR BIASA
|