Bacaan : Daniel 4:1-37
Ketika kompetisi Liga Jerman musim 2007-2008 bergulir, Luca Toni dan
Miroslav Klose -- dua pemain yang baru bergabung dengan Bayern
Munich saat itu -- menjadi bahan pemberitaan hangat. Bukan saja
keterampilan mereka dalam mengolah bola, melainkan juga kepaduan
mereka bekerja sama dalam menciptakan gol demi gol. Karena prestasi
mengagumkan itu, mereka dijuluki pasangan maut. Bahkan Otmar
Hitzfeld, sang pelatih, menyebut kedua pesebak bola itu sebagai
"Hadiah dari Tuhan bagi Munich ".
Namun di tengah banjir pujian tersebut, Klose tetap rendah hati.
Keberhasilan yang ia raih tidak membuatnya menepuk dada. "Yang
terbaik adalah tidak terlalu banyak membicarakan bagaimana baiknya
kondisi saya dan Toni saat ini. Justru yang harus dikritisi dari
kami adalah, kami belum memanfaatkan semua peluang yang kami
miliki." Begitu tanggapan Klose terhadap semua pujian itu.
Lawan rendah hati adalah tinggi hati atau sombong. Jika rendah hati
merupakan awal kehormatan, maka tinggi hati merupakan awal
kehancuran. Kisah Raja Nebukadnezar menjadi cermin dan mengingatkan
kita bahwa Allah tidak berkenan kepada orang yang congkak. Sehebat
apa pun prestasi yang kita capai, prestasi itu pasti akan berkurang
nilainya ketika kita menjadi sombong karenanya. Kesombongan tidak
akan menaikkan derajat kita di mata orang lain, sebaliknya malah
akan merendahkan diri kita sendiri. Seperti dikatakan oleh penulis
Amsal, "Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati,
menerima pujian" (Amsal 29:23). Jadi, betapa indahnya bila kita
mempelajari dan menjalankan "ilmu padi"; semakin berisi, semakin
merunduklah ia -AYA
BUKAN YANG CONGKAK, BUKAN YANG SOMBONG,
YANG DISAYANGI HANDAI DAN TOLAN
|