Bacaan : Matius 6:1-4
Seorang raja membangun katedral, namun tidak menghendaki siapa pun
memberikan sumbangan. Ia ingin dikenang sebagai pembangun tunggal
katedral itu. Begitulah. Katedral itu berdiri dengan sebuah plakat
yang menyatakan bahwa sang raja adalah pembangunnya.
Namun, suatu malam sang raja bermimpi. Seorang malaikat menghapus
plakat itu dan menuliskan nama seorang janda miskin untuk mengganti
namanya. Mimpi itu terulang dua kali. Saat terbangun, raja segera
memerintahkan agar janda itu dipanggil untuk memberikan penjelasan.
Dengan gemetar janda itu berkata, "Paduka, hamba sangat mengasihi
Tuhan dan sangat ingin terlibat dalam pembangunan katedral ini.
Namun, karena rakyat dilarang memberi bantuan apa pun, saya hanya
menyediakan jerami untuk kuda yang mengangkut batu-batuan."
Kisah di atas menggambarkan motivasi orang dalam memberikan
persembahan. Ada yang memberi demi unjuk kedermawanan, agar tidak
disebut orang kaya yang kikir. Ada pula yang memberi supaya dapat
mengontrol gereja dan hamba Tuhan. Orang-orang seperti itu, menurut
Yesus, sudah menerima upahnya (ayat 2).
Si ibu janda mewakili orang yang memberi berdasarkan kasih, bahkan
dengan pengorbanan. Kalau ia didakwa melanggar perintah raja,
bukankah ia mesti menanggung hukuman? Meski tampak remeh dan
dilakukan secara sembunyi-sembunyi, pemberiannya juga sangat
menentukan keberhasilan pembangunan katedral tersebut. Mari kita
melihat kembali motivasi kita dalam memberi persembahan. Apakah kita
bersikap seperti sang raja? Atau, seperti si janda miskin? -ARS
PERSEMBAHAN KITA DITAKAR BUKAN BERDASAR JUMLAHNYA
TETAPI BERDASAR KASIH DAN PENGORBANAN YANG MENYERTAINYA"
(Yohanes 1:41)
|