Bacaan : 1Korintus 3:1-9
Pengalaman hidup menyaksikan bahwa di mana-mana terjadi
perselisihan; baik di rumah tangga, di kantor, apalagi di dunia
politik. Termasuk juga di tempat yang seharusnya terjadi "damai
sejahtera", yakni di dalam gereja. Bahkan di tempat yang terakhir
ini, terkadang perselisihan sulit didamaikan atau diselesaikan.
Kita belajar dari Paulus tentang hal ini. Menurutnya, perselisihan
atau perpecahan menunjukkan ketidakdewasaan dalam Kristus (ayat 1),
sebab manusia duniawi masih mengemuka di situ (ayat 3). Apabila
seseorang masih hidup dengan lebih mengutamakan keakuannya dan tidak
mengusahakan hidup yang rohani, maka hidupnya masih dapat diliputi
oleh keirihatian dan perselisihan (ayat 4).
Untuk menyelesaikan perselisihan atau perpecahan, kedua pihak mesti
berusaha hidup secara "rohani" dengan bercermin pada kehidupan Yesus
Kristus; baik dalam perkataan, perasaan, pikiran, maupun tindakan.
Selebihnya, Paulus menasihati jemaat di Korintus (ayat 7,8), juga
kita, agar dalam hidup bersekutu kita berusaha untuk selalu seia
sekata, serta sehati sepikir. Dengan hati yang sama-sama rindu dan
sepakat untuk memiliki hidup yang rohani, anak-anak Tuhan akan lebih
erat dan bersatu, sehingga tidak terjadi perselisihan.
Perselisihan kerap kali terjadi karena ego manusia hendak saling
mengemuka. Padahal bila direnungkan, siapakah kita, sehingga ada
keangkuhan di antara saudara? Bahkan Yesus Kristus yang adalah
Tuhan, menjadi teladan bagi kita dengan rela menanggalkan ego-Nya,
dan turun menjadi manusia untuk mati secara nista di kayu salib.
Sebab itu, untuk menghindari perselisihan, landasi segala sesuatu
dengan kasih-ENO
SERIBU TEMAN TERASA KURANG
SETENGAH MUSUH TERASA LEBIH!
|