Bacaan : Amsal 31:10-31
Saat berbincang santai dengan ibu saya yang berumur 83 tahun, saya
menarik-narik pelan kulit tangannya yang sudah menggelambir. Ya,
saya ingat bagaimana tangan itu kadang harus mengangkat papan-papan
jati yang besar dan berat ketika ia membuka dan menutup toko rotinya
yang mungil. Dengan senyum, setiap hari ia melayani pelanggannya
selama hampir 30 tahun. "Dulu tangan ini kuat untuk bekerja sehingga
kalian bertujuh bisa bersekolah dan mandiri. Sekarang aku berbahagia
dan bersyukur atas hidupku," simpulnya saat mengenang masa ia
berjuang demi hari depan anak-anaknya.
Peran wanita dalam Amsal 31 sungguh luar biasa. Ia dapat dipercaya,
dan olehnya, suaminya diberkati (ayat 11,12). Ia rajin dan dapat
mengatur rumah tangga dengan baik, hingga anak-anak dan suaminya
sangat menghargainya (ayat 13-15,27, 28). Ia meniti karier (ayat
16-18), tetapi masih sempat memerhatikan orang lain yang membutuhkan
pertolongan (ayat 20). Penampilannya selalu apik (ayat 22). Ia takut
akan Tuhan (ayat 30). Ia melayani sesama sebagai perwujudan imannya
kepada Tuhan.
Meski mungkin tak selengkap gambaran Amsal 31, setiap wanita juga
dapat mulai memberi hidup bagi sesama, sejak hari ini. Dan bisa
mulai dari keluarga, yang ditemui setiap hari. Mulai dari hal yang
biasa dilakukan untuk mereka. Bila semuanya dilakukan dengan penuh
syukur dan kesetiaan, kelak akan timbul kekaguman karena Tuhan
memakai hidup keseharian seorang wanita menjadi berkat dan
memuliakan nama Tuhan.
Orang-orang terdekat kita, apakah mereka merasakan kehadiran, kasih,
dan pelayanan kita? -YS
JADIKAN HIDUP SEBAGAI SALURAN BERKAT
MULAILAH DARI ORANG-ORANG TERDEKAT
|