Bacaan : Markus 10:35-45
Pada tahun 2003, Michael Weiskopf, wartawan majalah TIME, berangkat
ke Irak. Bersama tentara Amerika Serikat, ia meliput suasana perang
dari dalam tank baja. Tak dinyana, sebuah granat dilemparkan ke
dalam tank itu dan meledak! Weiskopf pun kehilangan tangan kanannya.
Ketika kembali pada keluarganya, ia merenung: "Mengapa aku mau
diutus ke medan perang hingga cacat begini?" Akhirnya, ia menemukan
jawabnya: ambisi. Weiskopf ingin menaikkan pamornya supaya dikenal
sebagai jurnalis terhebat. Kini ia menyesal.
Ambisi adalah keinginan membara untuk sukses atau mencapai sesuatu
yang lebih. Tak salah bila manusia berambisi. Bahkan, untuk
memajukan gereja dibutuhkan pemimpin yang berambisi. Masalahnya, ke
mana ambisi itu diarahkan? Yakobus dan Yohanes punya ambisi egois
yang terarah pada diri sendiri. Mereka meminta Yesus kelak
menempatkan mereka di posisi tertinggi (ayat 37). Menjadi yang
terhebat. Pemegang kuasa. Mendengar permintaan itu, kesepuluh murid
lain marah. Mengapa? Karena mereka pun mengincar kedudukan itu! Dari
situ Yesus mengarahkan mereka agar memiliki ambisi yang terbaik:
"meminum cawan yang harus Kuminum" (ayat 38). Ambisi untuk berkorban
seperti Yesus. Menjadi hamba yang gigih melayani Tuhan dan sesama.
Dalam pelayanan, tidak salah kita memiliki ambisi, tetapi mesti
hati-hati, sebab ambisi itu bagaikan api. Bisa menghangatkan, tetapi
bisa juga menghanguskan. Ambisi egois menghasilkan perseteruan,
sebaliknya ambisi yang kudus mempersatukan. Sudah benarkah arah
ambisi Anda? Adakah Anda mencari hal-hal yang besar bagi Tuhan, atau
bagi diri sendiri? -JTI
AMBISI YANG KUDUS
MERINDUKAN HAL-HAL BESAR BAGI KEMULIAAN ALLAH
|