Bacaan : Maleakhi 2:13-17
Ilusi didefinisikan sebagai "persepsi yang salah terhadap
kenyataan". Para pesulap mengandalkannya untuk mengelabui penonton.
Namun, ada beberapa ilusi yang dapat berakibat fatal. Jika saya
mengejar fatamorgana yang terlihat seperti air di padang gurun, saya
bisa mati kehausan.
Ilusi yang paling berbahaya adalah ilusi rohani. Pada zaman
Maleakhi, para pria tidak lagi menganggap serius janji pernikahan
dan menceraikan istri mereka tanpa alasan yang adil. Mereka
menyangka bahwa, "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di
mata Tuhan; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan"
(Maleakhi 2:17). Mereka tidak mengikuti cara pandang Allah.
Kita semua cenderung menipu diri sendiri. Karena terselubung oleh
dosa, kita tidak mampu membedakan antara benar dan salah. "Betapa
liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, ... siapakah
yang dapat mengetahuinya?" (Yeremia 17:9).
Hidup dalam ilusi seperti itu harus diganti dengan hidup dalam
kenyataan. Dan hal ini mungkin akan dapat terwujud setelah kita
berhasil melewati saat-saat yang sulit. Kesengsaraan dan luka
menjadi jalan untuk menyingkirkan kepalsuan hidup kita, sehingga
kita dapat mengisi kekosongan hidup kita dengan kebenaran.
Jika kita mengandalkan Roh Allah untuk membantu kita mempelajari dan
menaati ajaran-ajaran Alkitab, ilusi akan digantikan oleh kebenaran
kasih Allah dan pengampunan dalam Kristus. Hanya kebenaran inilah
yang sanggup memuaskan kerinduan hati kita yang terdalam dan
menuntun kita pada hasrat untuk menjadi serupa dengan Dia –Dennis De
Haan
AGAR TIDAK TERJERUMUS KE DALAM KESALAHAN
PEGANGLAH TEGUH KEBENARAN
|