Bacaan : Matius 18:1-5
Pada suatu hari Minggu, saya mendengar Mike bercerita tentang
hubungannya dengan kedua ayahnya, yaitu ayah yang membesarkannya
sejak kecil, dan Bapanya di surga.
Pertama, ia menggambarkan bahwa pada masa kanak-kanak ia percaya
kepada ayah duniawinya secara "sederhana dan tidak berbelit-belit".
Ia mengharapkan ayahnya membetulkan barang-barang yang rusak dan
memberinya nasihat. Ia takut mengecewakan ayahnya. Padahal kasih
sayang dan pengampunan sang ayah selalu tersedia baginya.
Mike melanjutkan, "Beberapa tahun yang lalu saya berbuat kesalahan
yang menyakiti banyak orang. Karena merasa bersalah, saya memutuskan
hubungan yang menyenangkan dengan Bapa surgawi. Saya lupa kalau saya
dapat memintanya untuk memperbaiki apa yang telah saya rusakkan dan
meminta nasihat-Nya."
Tahun-tahun berlalu. Mike sangat merindukan Allah, tetapi ia tidak
tahu apa yang harus dilakukannya. Pendetanya hanya berkata, "Mohon
ampunlah kepada Allah dengan sungguh-sungguh!"
Namun, Mike malah mengajukan pertanyaan yang berbelit-belit, seperti
"Apakah ini akan berhasil?" dan "Bagaimana jika ...?"
Akhirnya pendetanya berdoa, "Allah, berilah Mike iman seorang anak
kecil!" Tak lama kemudian Mike bersaksi dengan penuh sukacita, "Aku
telah menerimanya!"
Hari itu juga Mike kembali menemukan kedekatannya dengan Bapa
surgawi. Kuncinya adalah dengan mempraktikkan iman seorang anak
kecil yang sederhana dan tidak berbelit-belit -Joanie Yoder
IMAN SEPERTI ANAK KECIL MEMANCARKAN SINAR PALING TERANG
|