Bacaan : Amos 7:1-9
Ketika saya masih kecil, saya dan teman-teman sebaya saya membangun
markas. Kami berhasil membuat lantai yang rata, tetapi kami
kesulitan untuk memasang dinding papan dengan tegak karena kami
tidak memakai tali ukur. Akibatnya, markas kami seperti Menara Pisa
yang miring.
Tukang kayu sering menggunakan tali ukur untuk memastikan bahwa
tembok terpasang tegak lurus terhadap lantai. Mereka menggunakan
tali yang diberi pemberat, yang menggantung lurus sebagai pedoman
bagi pekerja saat membangun tembok.
Dalam Amos 7, kita membaca analogi mengenai tali ukur. Awalnya Tuhan
memberi tahu Amos mengenai kawanan belalang dan api besar, yang
menggambarkan nubuatan akan adanya kehancuran yang menimpa kerajaan
utara Israel. Setelah sang nabi berdoa dan Tuhan berkenan untuk
menunda penghakiman-Nya, Amos menerima penglihatan berupa sebuah
tembok yang tegak lurus. Tuhan berdiri di dekat tembok itu sambil
memegang tali ukur (tali sipat). Karena kelakuan bangsa Israel tidak
sesuai dengan hukum Allah, maka mereka harus mengalami murka Allah
(ayat 8,9).
Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita memiliki tali ukur yang berguna
untuk mengevaluasi hidup kita. Tali ukur itu adalah firman Allah
yang berisi prinsip-prinsip dan perintah-perintah. Saat berhadapan
dengan berbagai pilihan moral, kita harus melihat apa yang diajarkan
Kitab Suci. Selama kita mengikuti petunjuk-petunjuk Tuhan, kita
tidak perlu mencemaskan apa yang dinyatakan oleh tali ukur-Nya dalam
hidup kita –Dave Egner
KASIH ANDA KEPADA ALLAH DAPAT DIUKUR
MELALUI KETAATAN ANDA PADA FIRMAN-NYA
|