Bacaan : Hosea 1:1-3; 2:13-19
Pada akhir drama karya Marc Connely yang berjudul Green Pastures
(Lembah Hijau), Hezdrel tua mengatakan bahwa ia tidak takut mati
sebab ia percaya kepada Allahnya Hosea. Lalu Tuhan berbicara
kepadanya dan bertanya apakah yang ia maksudkan adalah Allahnya
Musa. Hezdrel menjawab tidak, dan menjelaskan bahwa ia melihat
Tuhannya Hosea sebagai Tuhan yang penuh dengan belas kasih dan tidak
menakutkan.
Keyakinan Hezdrel didasarkan pada sebuah kisah nyata yang terjadi
pada zaman dahulu. Sebuah kisah tentang cinta yang tidak berbalas:
Cinta tanpa pamrih yang diberikan Hosea kepada Gomer yang tidak
setia. Gomer berulang kali menyeleweng sehingga menghancurkan hati
Hosea. Namun, Hosea tidak pernah berhenti mencintainya.
Lalu Gomer dibuang ke tempat yang sangat gelap. Saya membayangkan
keadaannya yang letih, perasaan tak berguna, berpenyakitan, dibebani
oleh kesedihan, dan tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah cinta
Hosea.
Hubungan antara Hosea dan Gomer menggambarkan hubungan antara Allah
dan bangsa Israel. Meskipun Israel tidak setia dan menderita
karenanya, Tuhan tetap mengejarnya dan berbicara kepadanya dengan
lembut (Hosea 2:13).
Seandainya seorang tetangga Hosea melihat sendiri kejadian itu, saya
membayangkan ia akan berkata, "Apakah ini yang disebut cinta yang
tidak rasional?" Dan orang lain akan menjawab, "Saya tahu! Hosea
mengasihi Gomer seperti Allah mengasihi saya!"
Inilah Allahnya Hosea. Sambutlah kasih-Nya dan ketahuilah bahwa Dia
bukanlah Allah yang menakutkan –David Roper
PERBARUILAH KASIH ANDA KEPADA ALLAH
DENGAN MENGINGAT KASIH ALLAH KEPADA ANDA
|