Bacaan : Amsal 4:14-27
Bayangkan rintangan-rintangan yang harus diatasi saat seseorang
berjalan kaki dari New York ke San Fransisco. Karena itu ia menjadi
pemecah rekor. Ketika ditanya mengenai rintangan terbesar yang
dihadapinya, ia mengatakan bahwa tantangan terberat yang ia jumpai
bukanlah perjalanan mendaki gunung atau menyeberangi hamparan gurun
pasir yang panas, kering, dan tandus. "Yang hampir-hampir membuat
saya menyerah dalam perjalanan ini," akunya, "adalah pasir dalam
sepatu saya."
Kisah tersebut mengingatkan bahwa kita juga dapat dikalahkan secara
rohani oleh apa yang awalnya hanya berupa hal kecil yang mengganggu.
Kita membiarkan kata-kata yang kasar dan merendahkan, atau
kesalahpahaman, mengecewakan kita. Atau kita membiarkan orang-orang
di sekitar kita memberikan pengaruhnya yang meskipun kecil, tapi
tidak benar. Bukannya berkomitmen untuk menghindari yang jahat, baik
itu kecil ataupun besar (Amsal 4:14-27), kita malah berkompromi
dengan hal-hal itu. Kita lupa untuk datang kepada Tuhan, memohon
pengampunan dan pertolongan.
Sir Francis Drake, penjelajah asal Inggris di abad ke-16, telah
berlayar keliling dunia. Namun, saat menyeberangi Sungai Thames,
badai besar mengancam akan membalikkan kapalnya. Lalu ia berseru,
"Akankah saya yang telah berhasil menghadapi badai di lautan akan
tenggelam di sebuah selokan?"
Alangkah bijaksana jika kita bertanya pada diri sendiri, "Akankah
saya, yang telah sampai sejauh ini menjalani hidup dengan iman, akan
dikalahkan oleh ‘pasir dalam sepatu saya’?" Kita harus menjawab
dengan pasti, "Tidak!" -Dave Branon.
YANG MEMBUAT KITA TERSANDUNG ADALAH KERIKIL
BUKAN GUNUNG
|