|
Judul: Doa dan prestasi
Sepercik harapan muncul ketika Simson di penjara. Allah mengizinkan
rambut Simson tumbuh (ayat 22), sebagai sim-bolisasi kemungkinan
diperbaruinya komitmen Simson kepada Allah. Allah memang selalu
memberikan kesempatan kepada hamba-Nya, meski telah melakukan
kegagalan.
Walau demikian, Simson tetap harus menanggung akibat
ketidaktaatannya sebagai nazir Allah. Ia dipermalukan oleh
musuhnya, yang notabene adalah musuh bangsa Israel, yaitu bangsa
Filistin. Takluknya Simson mengakibatkan Filistin
mengagung-agungkan Dagon, dewa mereka (ayat 23-24). Saat itu
Simson tidak lagi menjadi figur yang ditakuti Filistin. Cukup
seorang anak kecil yang diminta untuk menuntun dia (ayat 26). Ia
juga menjadi bahan tertawaan orang Filistin (ayat 25). Pada saat
itulah Simson melihat kesempatan untuk menghancurkan musuhnya,
musuh bangsanya. Maka di ujung hidupnya, dalam
ketidakberdayaannya, Simson berseru kepada Allah, memohon
kekuatan untuk yang terakhir kali (ayat 28). Allah men-dengar
doanya. Ia berhasil merubuhkan kuil Dagon, hingga memakan korban
jiwa yang lebih besar daripada jumlah orang Filistin yang dia
bunuh, saat dia kuat (ayat 30).
Bila kita perhatikan kehidupan Simson, kita melihat bahwa
hubungannya dengan Allah turun naik. Ada saat ia dekat dengan
Allah (Hak. 15:18-19). Namun seringkali juga ia melakukan dosa,
yakni saat ia melanggar kenazirannya. Ini mungkin karena ia
tidak membiarkan Allah menyentuh selu-ruh aspek hidupnya. Ada
sisi tertentu yang ia kuasai sendiri. Lebih dari itu, Simson
adalah gambaran mengenai orang yang menyia-nyiakan potensi dan
panggilan Allah di dalam dirinya. Ia adalah salah satu pahlawan
iman di dalam PL (Ibr. 11:32), tetapi sayangnya tidak semulia
yang lain.
Coba kita bercermin dan melihat hidup kita. Allah telah
menganugerahkan potensi, talenta, bahkan mungkin, panggilan
khusus untuk memuliakan Allah. Sudahkah kita memaksimalkan semua
itu? Sudahkah keseluruhan hidup kita digunakan bagi pekerjaan
dan kemuliaan nama Tuhan?
|