|
Judul: Beritakan firman
Ketika Tuhan Yesus datang untuk mengangkat gereja-Nya, maka setiap
orang percaya, baik yang hidup maupun yang sudah mati, akan
menghadapi penghakiman Kristus. Ini bukanlah penghakiman
mengenai dosa, tetapi merupakan evaluasi mengenai penatalayanan
kita. Apakah kita akan menerima mahkota kebenaran atau tidak,
tergantung pada bagaimana cara hidup kita sebagai pengikut-Nya.
Mengapa Paulus membicarakan hal itu dalam nasihat-nya kepada
Timotius (ayat 1)? Untuk mengingatkan Timotius bahwa suatu hari
nanti, akan tiba saatnya untuk mempertanggungjawaban pemberitaan
firman yang telah dilakukan. Sebagai seorang hamba Tuhan,
Timotius diminta untuk memberitakan firman (ayat 2). Tidak semua
orang yang membuka Alkitab dan membicarakannya, berarti sedang
memberitakan firman. Banyak pengkhotbah yang membicarakan
dirinya, dan bukan firman. Jika fokusnya pada kisah lucu atau
tentang pengalaman hidupnya yang begitu menyentuh, itu berarti
ia sedang membicarakan dirinya.
Seorang hamba Tuhan harus selalu siap menyampaikan firman Tuhan,
kapan saja. Ia harus siap memberitakannya, baik dalam keadaan
senang maupun susah; baik saat ia dapat melihat buahnya maupun
tidak. Akan tetapi, perlu diperhatikan juga, seorang hamba Tuhan
harus memperhadapkan firman Tuhan dengan hidup para
pendengarnya, dan membiarkan Allah bekerja di dalamnya. Terlebih
karena semakin banyak orang yang tidak suka mendengar kebenaran
firman Tuhan. Orang lebih suka mendengar apa yang menyenangkan
untuk didengar, ketimbang mendengar sesuatu yang memerahkan
telinga (ayat 3-4). Sebab itu, Timotius harus sabar terhadap
mereka.
Ternyata tugas seorang hamba Tuhan tidaklah mudah, bukan? Tanggung
jawab mereka terhadap pemberitaan fir-man tidaklah kecil. Karena
itu, sebagai jemaat, kita perlu mendukung mereka. Doakanlah agar
dalam mempersiapkan khotbah, mereka bergantung pada pimpinan
Allah.
|