|
Judul: Jangan sembarangan bernazar
Nama Yefta disebut juga di dalam Kitab Ibrani sebagai salah seorang
saksi iman (Ibr. 11:32). Memang kalau kita perhatikan isi
negosiasinya saat memperjuangkan hak atas tanah yang diklaim
bani Amon, maka kita melihat imannya kepada Allah. Tak heran
bila Roh Tuhan memenuhi dirinya setelah raja bani Amon tak mau
menghiraukan argumentasinya (ayat 29). Maka muncullah semangat
untuk maju berperang melawan bani Amon.
Karena ia tahu bahwa kemenangan dari Tuhan jua asalnya, maka ia
terlebih dulu meminta pertolongan Allah. Bahkan ia bernazar akan
mempersembahkan apa saja yang kelu-ar menyambut dia sepulang
dari medan perang, bila Tuhan berkenan memberikan kemenangan
kepada dia (ayat 30-31). Memang nazarnya terkesan diucapkan
terlalu terburu-buru, tanpa memikirkan akibatnya. Namun tak
dapat dipungkiri, bahwa itu menunjukkan ketergantungannya kepada
Allah.
Atas pertolongan Tuhan, Yefta berhasil memenangkan peperangan (ayat
32-33). Betapa terpukul hatinya ketika melihat anak perempuannya
menyambut dia. Padahal dialah anak satu-satunya (ayat 34-35).
Maka meskipun terasa berat, Yefta harus merelakan putri
satu-satunya dipersembahkan kepada Tuhan. Sang putri pun
merelakan dirinya dipersembahkan kepada Tuhan (ayat 36). Ini
menunjukkan betapa seriusnya mereka menepati nazar yang telah
terucap. Yefta yang beriman kepa-da Allah tentu tidak akan mau
melakukan sesuatu yang berlawanan dengan iman dan janjinya
kepada Allah.
Ketika hati dipenuhi hasrat membara untuk meraih sesuatu, memang
rasanya kita akan rela membayar harga berapa saja untuk memenuhi
hal itu. Rasanya bernazar apa pun tak masalah. Namun kita harus
menyadari, bahwa yang terpenting adalah memahami dengan baik
kehendak Allah terlebih dulu. Jangan sampai kita bernazar hanya
untuk membuat Allah berpihak pada kita, seakan-akan kita
mengiming-imingi Allah sesuatu agar Ia mau melakukan sesuatu
untuk kita. Akan tetapi, bila nazar telah terucap,
laksanakanlah!
|