|
Judul: Tuluskah imanmu?
Paulus mengucap syukur kepada Allah (ayat 3a) karena melihat iman
Timotius yang tulus ikhlas (ayat 5a). Ini membuat Paulus selalu
mengingat Timotius (ayat 3b-4a), serta ingin segera berjumpa
dengan dia (ayat 4b).
Apa yang dimaksud dengan iman yang tulus ikhlas? Yaitu iman yang
murni, yang tidak bercampur dengan kekha-watiran, kecurigaan
atau ketidakpercayaan kepada Allah. Apa yang istimewa dengan
iman yang tulus ikhlas? Iman semacam ini tidak munafik. Artinya
bukan hanya untuk diperlihatkan kepada orang lain atau untuk
membuat orang lain terkesan. Iman terlihat dalam setiap aspek
hidup dan lahir dari kedekatan dengan Allah. "Lho bukankah iman
memang harus demikian?", begitu mungkin pertanyaan kita. Memang
benar. Namun masalahnya, tidak semua orang yang mengaku diri
beriman memiliki iman yang demikian.
Iman akan terlihat saat orang mengalami tantangan terhadap iman,
ketekunan, atau pelayanannya. Seperti Timotius yang melayani
jemaat Efesus. Ia harus menghadapi beraneka ragam orang dengan
berbagai tingkat pertumbuhan iman. Ada yang mendukung pelayanan,
tetapi ada juga yang menimbulkan kesulitan. Bila orang tidak
memiliki iman yang tulus ikhlas, bukan tidak mungkin ia akan
mundur dari pelayanan bila merasa diragukan kemampuannya,
misalnya. Atau orang yang merasa rajin dalam berbagai aktifitas
gereja, lalu pindah ke gereja lain karena tidak dikunjungi
pendeta ketika sakit. Atau orang yang ingin terlibat pelayanan
karena berharap dihormati orang lain, atau mengharapkan Tuhan
membalasnya dengan kenyamanan hidup. Semua itu adalah wujud iman
yang tidak tulus ikhlas. Tak heran ada yang mundur dari iman
serta meninggalkan Tuhan karena merasa kecewa kepada Dia. Sikap
seperti itu tentu saja berbeda dengan Paulus yang melayani
dengan hati nurani yang murni (ayat 3a) serta Timotius yang
memiliki iman yang tulus ikhlas.
Iman yang tulus ikhlas akan mengarahkan seseorang untuk mengasihi
dan melayani Allah, bukan diri sendiri.
|