Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 2Timotius 1:3-5
< Mei
2008
>
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Sabtu, 10 Mei 2008

Judul: Tuluskah imanmu?
Paulus mengucap syukur kepada Allah (ayat 3a) karena melihat iman Timotius yang tulus ikhlas (ayat 5a). Ini membuat Paulus selalu mengingat Timotius (ayat 3b-4a), serta ingin segera berjumpa dengan dia (ayat 4b).

Apa yang dimaksud dengan iman yang tulus ikhlas? Yaitu iman yang murni, yang tidak bercampur dengan kekha-watiran, kecurigaan atau ketidakpercayaan kepada Allah. Apa yang istimewa dengan iman yang tulus ikhlas? Iman semacam ini tidak munafik. Artinya bukan hanya untuk diperlihatkan kepada orang lain atau untuk membuat orang lain terkesan. Iman terlihat dalam setiap aspek hidup dan lahir dari kedekatan dengan Allah. "Lho bukankah iman memang harus demikian?", begitu mungkin pertanyaan kita. Memang benar. Namun masalahnya, tidak semua orang yang mengaku diri beriman memiliki iman yang demikian.

Iman akan terlihat saat orang mengalami tantangan terhadap iman, ketekunan, atau pelayanannya. Seperti Timotius yang melayani jemaat Efesus. Ia harus menghadapi beraneka ragam orang dengan berbagai tingkat pertumbuhan iman. Ada yang mendukung pelayanan, tetapi ada juga yang menimbulkan kesulitan. Bila orang tidak memiliki iman yang tulus ikhlas, bukan tidak mungkin ia akan mundur dari pelayanan bila merasa diragukan kemampuannya, misalnya. Atau orang yang merasa rajin dalam berbagai aktifitas gereja, lalu pindah ke gereja lain karena tidak dikunjungi pendeta ketika sakit. Atau orang yang ingin terlibat pelayanan karena berharap dihormati orang lain, atau mengharapkan Tuhan membalasnya dengan kenyamanan hidup. Semua itu adalah wujud iman yang tidak tulus ikhlas. Tak heran ada yang mundur dari iman serta meninggalkan Tuhan karena merasa kecewa kepada Dia. Sikap seperti itu tentu saja berbeda dengan Paulus yang melayani dengan hati nurani yang murni (ayat 3a) serta Timotius yang memiliki iman yang tulus ikhlas.

Iman yang tulus ikhlas akan mengarahkan seseorang untuk mengasihi dan melayani Allah, bukan diri sendiri.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini