|
Judul: Tidak menghargai panggilan Allah
Sekali pun dikandung, dilahirkan, dan ditentukan untuk hidup sebagai
nazir Allah, Simson tidak menjadi pahla-wan bagi Israel dengan
sendirinya. Sepak terjangnya sebagai hakim diawali oleh
pernyataan: "Mulailah hatinya digerak-kan oleh Roh TUHAN ..."
(Hak. 13:25). Terjemahan yang lebih tepat adalah: "Mulailah Roh
TUHAN menggerakkannya ...". Kata Ibrani patsam berarti
"mendorong" atau "memaksa." Kata ini menyatakan bahwa seluruh
perjalanan hidup Simson berada di bawah kendali Roh Allah. Itu
berarti setiap sepak terjangnya, sekali pun tidak sesuai dengan
panggilan kena-zirannya, digunakan Allah untuk merealisasikan
segala rencana-Nya bagi umat-Nya.
Ini terlihat melalui kekerasan hati Simson untuk meng-ambil seorang
gadis Filistin sebagai isterinya (ayat 1-3). Tindakan ini
menunjukkan bahwa ia tidak menghargai panggilan kenazirannya.
Meskipun Allah mengatur hal itu terjadi sebagai jalan untuk
menghukum orang Filistin (ayat 4), bukan berarti Simson tidak
bersalah. Apa yang terjadi berikutnya pun masih merupakan
rangkaian tindakan yang berlawanan dengan panggilan
kenazirannya. Ia bersentuhan dengan bangkai (ayat 5-9), dan
mengadakan pesta yang biasanya menyajikan anggur (ayat 10).
Tindakannya membunuh 30 orang Filistin, walau sesuai dengan
keinginan Allah untuk menghukum Filistin, dilakukan dengan
alasan yang salah. Namun kita tidak melihat adanya penyesalan
dalam diri Simson, meski ia melakukan sesuatu yang dapat
meretakkan hubungannya dengan Allah. Simson benar-benar tidak
menghargai Allah, dan hak istimewa sebagai nazir yang Allah
berikan kepada dia.
Masalah mendasar yang terdapat dalam diri Simson ada-lah bahwa ia
tidak pernah tunduk pada otoritas Allah. Ini termanifestasi juga
dalam ketidaktaatannya kepada orang-tuanya (ayat 3). Sebagai
nazir ia tidak memiliki disiplin diri yang baik. Ia membiarkan
hasrat menguasai dirinya (band. 1Kor. 9:27). Padahal disiplin
dan penaklukan diri mengindikasikan penyerahan diri seseorang
pada otoritas Allah.
|