|
Judul: Jangan berlaku tidak adil!
Allah tidak akan pernah membiarkan kejahatan menunjukkan
kemenangannya. Akan ada saat bagi Allah untuk menegakkan
keadilan atas si jahat. Itulah yang kemudian terjadi atas
Abimelekh dan Sikhem.
Kekuasaan Abimelekh atas Israel ternyata sangat terbatas. Ia hanya
menguasai Sikhem dan daerah-daerah di sekitarnya. Ia sendiri
tinggal di Aruma, kira-kira lima mil di sebelah tenggara Sikhem.
Mungkin inilah yang memicu munculnya semangat untuk melawan
Abimelekh, di hati orang Sikhem (ayat 25). Abimelekh memang
menempatkan Zebul untuk menguasai kota itu (ayat 30). Kemudian
Gaal berhasil memprovokasi orang-orang Sikhem untuk memberontak
terhadap Abimelekh (ayat 26-29). Mereka jadi percaya bahwa Gaal
dapat melindungi mereka dalam perlawanan terhadap Abimelekh.
Namun ada sutradara di balik layar. Dialah Allah yang hendak
membalaskan kematian 69 orang saudara Abimelekh (ayat 56-57).
Berdasarkan pengaduan Zebul (ayat 30-31), Abimelekh turun tangan
untuk menaklukkan Sikhem. Bagai banteng mengamuk, ia
memorakporandakan Sikhem dan membinasakan mereka. Orang-orang
yang berada di ladang, bersembunyi di dalam liang (ayat 46-49),
atau di dalam menara (ayat 50-52), dikejar juga. Lalu nyatalah
kuasa keadilan Tuhan. Abimelekh yang telah menghabisi nyawa
sekian ribu orang, nyawanya sendiri kemudian dihabisi oleh
seorang perempuan yang melempari kepalanya dengan batu (ayat
53). Itulah hukuman bagi Abime-lekh dan orang-orang Sikhem.
Kedua belah pihak binasa. Nubuat Yotam digenapi (ayat 57), tiga
tahun setelah dinyatakan.
Allah memang tak akan membiarkan ketidakadilan merajalela. Meski ada
jarak waktu tiga tahun, tetapi kita melihat bahwa Allah tidak
lalai. Kiranya ini menguatkan iman kita untuk tetap berharap
hanya kepada Allah, yang mahaadil, saat kita mengalami
ketidakadilan. Sebaliknya, kita harus memperhatikan sikap kita
pada orang lain. Jangan sampai kita pun berlaku tidak adil.
Ingatlah bahwa dengan berlaku demikian, berarti kita lupa bahwa
Allah ada dan berkuasa.
|