Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Hakim 11:1-28
< Mei
2008
>
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Sabtu, 24 Mei 2008

Judul: Libatkan Allah
Ketika Malaysia mengklaim pulau Anbalat sebagai bagian dari wilayah teritorial mereka, maka saat itu seluruh rakyat Indonesia menjadi marah. Bahkan di dunia maya pun terjadi perang antara para hacker dari masing-masing pihak.

Klaim bani Amon atas tanah Israel jelas tidak dapat diterima. Menurut Amon, tanah itu adalah milik mereka yang diambil secara curang oleh Israel (ayat 13). Argumen Yefta kemudian, memperlihatkan bukti-bukti mengenai siapa sesung-guhnya pemilik tanah itu (ayat 12-28). Sebelumnya, Amon telah lebih dulu kehilangan tanah itu saat perang melawan Amori. Lalu Amori kalah perang melawan Israel, sehingga Israel menguasai tanah itu. Jadi tanah itu telah dikuasai Israel selama 300 tahun. Orang Amori sendiri tidak pernah mengklaim kembali tanah itu, meski mereka punya kesempatan. Bila Amon mengklaim tanah itu karena mereka adalah pemilik tanah sebelumnya, jelas tidak dapat diterima.

Menurut Yefta, Allah telah memberikan tanah itu kepada Israel. Jadi jika raja Amon mengklaim bahwa tanah itu adalah milik mereka, biarlah dewa Kamos yang mengembalikan tanah itu kepada mereka. Menarik sekali melihat bagaimana Yefta memakai nama Allah lebih sering dibandingkan hakim-hakim yang lain. Ini menunjukkan imannya kepada Allah. Bagi Yefta, bila pun terjadi peperangan, maka bukan tentara kedua belah pihak yang berperang, melainkan Allah Israel dan dewa Kamos. Sebab itu, biarlah mereka sama-sama melihat, siapakah yang lebih kuat, Yahweh atau Amon? Menarik juga melihat bagaimana Yefta berusaha menyelesaikan persoalan itu bukan dengan unjuk kekuatan melalui peperangan, tetapi melalui upaya diplomasi terlebih dulu.

Tidak semua orang dapat memberi respons yang tepat bila mengalami konflik dengan orang lain. Dari Yefta, kiranya kita mau belajar menanggapi masalah dengan kepala dingin dan bukan hanya emosi semata. Dan jangan lupakan, bahwa di atas segala sesuatunya ada Allah. Libatkan Dia dalam hidup Anda, bahkan ketika Anda menghadapi konflik.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini