|
Judul: Libatkan Allah
Ketika Malaysia mengklaim pulau Anbalat sebagai bagian dari wilayah
teritorial mereka, maka saat itu seluruh rakyat Indonesia
menjadi marah. Bahkan di dunia maya pun terjadi perang antara
para hacker dari masing-masing pihak.
Klaim bani Amon atas tanah Israel jelas tidak dapat diterima.
Menurut Amon, tanah itu adalah milik mereka yang diambil secara
curang oleh Israel (ayat 13). Argumen Yefta kemudian,
memperlihatkan bukti-bukti mengenai siapa sesung-guhnya pemilik
tanah itu (ayat 12-28). Sebelumnya, Amon telah lebih dulu
kehilangan tanah itu saat perang melawan Amori. Lalu Amori kalah
perang melawan Israel, sehingga Israel menguasai tanah itu. Jadi
tanah itu telah dikuasai Israel selama 300 tahun. Orang Amori
sendiri tidak pernah mengklaim kembali tanah itu, meski mereka
punya kesempatan. Bila Amon mengklaim tanah itu karena mereka
adalah pemilik tanah sebelumnya, jelas tidak dapat diterima.
Menurut Yefta, Allah telah memberikan tanah itu kepada Israel. Jadi
jika raja Amon mengklaim bahwa tanah itu adalah milik mereka,
biarlah dewa Kamos yang mengembalikan tanah itu kepada mereka.
Menarik sekali melihat bagaimana Yefta memakai nama Allah lebih
sering dibandingkan hakim-hakim yang lain. Ini menunjukkan
imannya kepada Allah. Bagi Yefta, bila pun terjadi peperangan,
maka bukan tentara kedua belah pihak yang berperang, melainkan
Allah Israel dan dewa Kamos. Sebab itu, biarlah mereka sama-sama
melihat, siapakah yang lebih kuat, Yahweh atau Amon? Menarik
juga melihat bagaimana Yefta berusaha menyelesaikan persoalan
itu bukan dengan unjuk kekuatan melalui peperangan, tetapi
melalui upaya diplomasi terlebih dulu.
Tidak semua orang dapat memberi respons yang tepat bila mengalami
konflik dengan orang lain. Dari Yefta, kiranya kita mau belajar
menanggapi masalah dengan kepala dingin dan bukan hanya emosi
semata. Dan jangan lupakan, bahwa di atas segala sesuatunya ada
Allah. Libatkan Dia dalam hidup Anda, bahkan ketika Anda
menghadapi konflik.
|