|
Judul: Tak perlu debat kusir
Dalam tugasnya sebagai seorang yang akan menggembalakan jemaat,
Timotius harus mengarahkan mereka untuk berfokus pada Injil.
Bukan hanya dengan memiliki pemahaman yang benar akan firman
Allah, tetapi juga bagaimana kebenaran itu diterapkan dalam
kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya dalam hal berbicara (ayat
14). Jangan sampai mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat.
Mempertahankan kebenaran memang perlu, tetapi tak perlu sampai
berdebat tanpa juntrungan. Ini malah bisa menjadi sumber
pertikaian yang sama sekali tidak membangun iman siapapun yang
mendengarnya.
Sebagai gembala jemaat, Timotius pun harus bersikap bijak (ayat 16).
Debat kusir mengenai hal-hal yang bersifat spekulatif,
provokatif, dan bukan merupakan tema sentral dalam kekristenan,
hanya akan menimbulkan rasa marah dan sakit hati. Lagi pula
orang tidak akan mendapatkan nilai tambah apapun dari debat
semacam itu. Maka jangan sampai orang yang terlibat dalam
pelayanan firman, misalnya membawakan renungan atau khotbah,
terjebak dalam arus silang pen-dapat seperti itu. Setiap orang
harus belajar mengungkapkan ketidaksetujuan mengenai suatu opini
atau pengajaran dalam sikap yang dewasa. Di sisi lain, kita
sendiri harus hati-hati terhadap pengajaran yang merusak iman.
Kita pun harus mengajak orang lain mewaspadai hal ini. Bila kita
tidak peka dan mengenali kebenaran firman Tuhan dengan baik,
kita akan mudah terombang-ambing.
Ketika ada buku yang mengisahkan Maria Magdalena sebagai kekasih
Yesus, banyak orang yang merasa terkejut dan imannya menjadi
goyah karena menganggap kisah itu sebagai kebenaran yang baru
ditemukan. Padahal kisah itu hanya fiksi dan bukan kebenaran!
Namun kita tidak perlu marah-marah menyikap hal ini. Sebab
kebenaran Allah tak akan pernah berubah, tak akan tergoyahkan,
dan tak akan memudar. Kita hanya perlu setia mengikuti kebenaran
Allah. Niscaya Ia tidak akan menolak kita.
|