|
Judul: Jangan sia-siakan waktu
Di bagian penutup suratnya, Paulus mendesak Timotius untuk segera
menemui dia (ayat 9). Ia menitip salam untuk beberapa orang yang
dia kenal (ayat 19-21). Ia juga meminta Timotius membawa
beberapa benda yang dia butuhkan. Lalu apa hubungan semua itu
dengan kita? Mengapa Allah membiarkan isi tulisan ini
diperhitungkan sebagai tulisan yang diilhamkan Allah? Bila kita
meneliti lebih jauh, ayat-ayat ini akan menolong kita mengenal
dan memahami Paulus, terutama di saat-saat terakhir dalam
hidupnya.
Di satu sisi, Paulus sangat manusiawi. Dalam saat-saat terakhir
dalam hidupnya, ia merasakan kesepian karena teman-temannya
telah pergi (ayat 10, 12). Tak ada yang menemani dia saat
melakukan pembelaan (ayat 16). Ia pun bergumul dengan perasaan
kecewa terhadap orang lain (ayat 10, 14). Namun di sisi lain, ia
terlihat begitu kuat dan keyakinannya akan Allah begitu teguh
(ayat 17-18). Gambaran ini memperlihatkan realita hidup orang
beriman. Orang beriman ternyata tidak bebas dari masalah dan
rasa kecewa terhadap orang lain. Akan tetapi, hal itu bisa
diatasi dengan iman kepada Allah.
Permintaan Paulus akan kitab-kitab, termasuk perkamen,
memperlihatkan kepada kita bahwa ia adalah seorang yang memiliki
keinginan kuat untuk senantiasa belajar. Kita memang tidak tahu
kitab atau perkamen apakah yang dia maksud. Namun kita bisa
melihat bahwa ia tidak menyia-nyiakan waktu yang begitu banyak
tersedia saat dia berada di penjara. Dia memanfaatkan waktu yang
ada untuk sesuatu yang bisa memperdalam pengenalannya akan Allah
dan menolong dia dalam melayani orang lain.
Bagi kita yang sudah berada di usia senja, teladanilah Paulus.
Jangan patah semangat karena keterbatasan fisik. Lakukanlah
sesuatu yang menolong kita semakin dekat dengan Allah. Bagi kita
yang merasa masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk
tinggal di dunia ini, jangan sia-siakan waktu yang begitu banyak
itu. Manfaatkanlah untuk sesuatu yang berguna bagi diri sendiri
dan orang lain.
|