|
Judul: Jika iri berpadu arogansi
Iri saja atau arogansi saja sudah merupakan sesuatu yang negatif.
Lalu bagaimana bila iri dan arogansi bertemu? Kehancuranlah yang
terjadi!
Kisah kemenangan suku Gilead sampai juga ke telinga suku Efraim,
tetangga mereka. Bukan ikut bahagia atas kemenangan itu, Efraim
malah tersinggung dan marah (ayat 1). Bukan karena tidak diberi
kesempatan untuk membantu, melainkan karena tidak bisa ikut
serta dalam kisah kesuksesan itu. Efraim, yang merasa diri
superior, iri atas kemenangan Gilead. Namun tak cukup sampai di
situ. Secara arogan, mereka mengancam akan membakar Yefta,
berikut rumahnya!
Tanggapan Yefta terhadap kemarahan suku Efraim, berbeda dengan
tanggapan Gideon dalam situasi yang sama. Gideon menanggapi
kemarahan suku Efraim dengan merendahkan dirinya. Hasilnya,
amarah suku Efraim mereda (Hak 8:1-3). Sedangkan Yefta, yang
bertindak sesuai ucapan, menanggapi ancaman suku Efraim dengan
tegas. Bagi Yefta, Tuhanlah yang telah menyerahkan bani Amon ke
dalam tangannya. Sementara suku Efraim hanya berdiam diri, meski
punya kesempatan untuk menolong. Padahal Yefta sendiri sudah
minta tolong, tetapi tidak dihiraukan (ayat 2-3). Baru ketika
perang usai, mereka mengajukan komplain, bahkan ancaman! Arogan
sekali! Merespons arogansi suku Efraim, Yefta mengumpulkan semua
orang Gilead untuk memerangi suku Efraim (ayat 4). Terjadilah
perang saudara yang memakan korban jiwa dari suku Efraim, sampai
mencapai 42.000 orang (ayat 6).
Iri hati yang berpadu dengan arogansi berakhir dengan perseteruan.
Kedua sifat negatif itu berasal dari sikap mening-gikan diri dan
merendahkan sesama; menganggap diri penting, sementara orang
lain bukan apa-apa. Tentu tak mudah menghadapi orang yang
bersifat demikian. Namun Roh Kudus menghendaki pengikut Kristus
menanggapi sikap demikian dengan sabar. Kita perlu belajar
merendahkan diri dan membalas kejahatan dengan kebaikan, amarah
dengan sikap bersahabat. Roh Kudus pasti memampukan kita!
|