Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > 2Timotius 1:1-2
< Mei
2008
>
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Jumat, 9 Mei 2008

Judul: Keyakinan yang teguh
Surat 2 Timotius adalah surat terakhir Rasul Paulus, dan tidak lama setelah itu iapun mati sebagai martir di Roma. Saat kita membaca kedua ayat ini, maka kesan kuat yang bisa kita rasakan adalah bahwa Rasul Paulus, di akhir hidupnya tetap bersemangat dan tetap meyakini panggilan serta jalan hidupnya bersama Tuhan. Kesimpulan ini tidaklah berlebihan karena ia begitu yakin bahwa dia adalah rasul Kristus, utusan untuk memberitakan janji tentang hidup (keselamatan, ay. 1).

Semangat serta keyakinan Paulus juga terlihat ketika ia meneguhkan Timotius yang sedang berada di Efesus untuk memimpin jemaat di sana (ayat 2). Mungkin ada sebagian orang yang tidak merasakan keistimewaannya, karena ia juga menuliskan hal yang sama dalam banyak suratnya (misalnya: 1 Tim. 1:1-2; 1 Tes. 1:1; 2 Tes. 1:1-2, dll). Namun kita perlu memahami kondisi Paulus saat menulis surat ini. Ia sedang di penjara Roma dan barangkali akan segera menghadapi hukuman mati. Maka kita akan melihat bahwa ucapan Paulus menunjukkan kualitas imannya. Bagaimana mungkin ia tetap bangga menyebut diri sebagai rasul Kristus padahal justru karena Kristuslah ia dipenjara? Bagaimana mungkin ia meyakini bahwa ia adalah utusan untuk memberitakan tentang hidup jika justru sebentar lagi ia akan berhadapan dengan para algojo Romawi yang akan mengambil nyawanya? Bagaimana mungkin ia memotivasi Timotius dan mengatakan bahwa "kasih karunia Allah menyertai engkau" jika dia sendiri sedang terbelenggu di penjara?

Penderitaan yang dialami Paulus oleh karena Kristus tidak membuat ia merasa perlu dikasihani. Itu disebabkan oleh keyakinan akan jati dirinya sebagai rasul Kristus dan bapak rohani Timotius. Pernahkah kita menghadapi penderitaan atau kesusahan karena Kristus? Bagaimana perasaan atau sikap kita saat itu? Ingatlah bahwa keteguhan iman bukan hanya dilihat pada waktu sukacita, tetapi justru pada waktu kita dalam kesusahan karena Kristus.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini