|
Judul: Keyakinan yang teguh
Surat 2 Timotius adalah surat terakhir Rasul Paulus, dan tidak lama
setelah itu iapun mati sebagai martir di Roma. Saat kita membaca
kedua ayat ini, maka kesan kuat yang bisa kita rasakan adalah
bahwa Rasul Paulus, di akhir hidupnya tetap bersemangat dan
tetap meyakini panggilan serta jalan hidupnya bersama Tuhan.
Kesimpulan ini tidaklah berlebihan karena ia begitu yakin bahwa
dia adalah rasul Kristus, utusan untuk memberitakan janji
tentang hidup (keselamatan, ay. 1).
Semangat serta keyakinan Paulus juga terlihat ketika ia meneguhkan
Timotius yang sedang berada di Efesus untuk memimpin jemaat di
sana (ayat 2). Mungkin ada sebagian orang yang tidak merasakan
keistimewaannya, karena ia juga menuliskan hal yang sama dalam
banyak suratnya (misalnya: 1 Tim. 1:1-2; 1 Tes. 1:1; 2 Tes.
1:1-2, dll). Namun kita perlu memahami kondisi Paulus saat
menulis surat ini. Ia sedang di penjara Roma dan barangkali akan
segera menghadapi hukuman mati. Maka kita akan melihat bahwa
ucapan Paulus menunjukkan kualitas imannya. Bagaimana mungkin ia
tetap bangga menyebut diri sebagai rasul Kristus padahal justru
karena Kristuslah ia dipenjara? Bagaimana mungkin ia meyakini
bahwa ia adalah utusan untuk memberitakan tentang hidup jika
justru sebentar lagi ia akan berhadapan dengan para algojo
Romawi yang akan mengambil nyawanya? Bagaimana mungkin ia
memotivasi Timotius dan mengatakan bahwa "kasih karunia Allah
menyertai engkau" jika dia sendiri sedang terbelenggu di
penjara?
Penderitaan yang dialami Paulus oleh karena Kristus tidak membuat ia
merasa perlu dikasihani. Itu disebabkan oleh keyakinan akan jati
dirinya sebagai rasul Kristus dan bapak rohani Timotius.
Pernahkah kita menghadapi penderitaan atau kesusahan karena
Kristus? Bagaimana perasaan atau sikap kita saat itu? Ingatlah
bahwa keteguhan iman bukan hanya dilihat pada waktu sukacita,
tetapi justru pada waktu kita dalam kesusahan karena Kristus.
|