|
Judul: Hati-hati pilih pemimpin
Meskipun Gideon adalah pemimpin Israel, tetapi ia tidak mau
memerintah sebagai raja (Hak. 8:23). Allah pun tidak menetapkan
sistem pemerintahan monarki bagi Israel. Allah saja yang menjadi
Raja atas Israel.
Akan tetapi, Abimelekh berbeda dari ayahnya. Ia justru menginginkan
kedudukan yang ditempati Allah itu. Menya-dari posisinya yang
lemah karena ia hanyalah anak gundik (Hak. 8:31), Abimelekh
mencari dukungan saudara-saudara dari pihak ibunya, yang berada
di Sikhem (salah satu kota di Kanaan). Tentu saja orang-orang
Sikhem lebih suka bila Abimelekh yang menjadi raja, daripada
bila orang Israel sendiri yang menduduki jabatan tersebut. Itu
akan menguntungkan posisi mereka. Kepentingan diri telah membuat
orang Sikhem mendukung Abimelekh, meski mereka tidak tahu apakah
Abimelekh benar-benar seorang pemimpin bangsa sejati.
Selanjutnya, mereka pun memberi dukungan dan menobatkan
Abimelekh menjadi raja (ayat 6). Bagi Abimelekh, semua itu masih
belum cukup. Ia ingin memuluskan jalan menuju tahta dan
mengamankan posisinya kelak. Sebab itu, dengan memakai
orang-orang bayaran, Abimelekh tega membunuh 70 orang saudaranya
seayah. Namun Yotam berhasil luput (ayat 5).
Yotam, yang berhasil melarikan diri, tidak tinggal diam. Ia memberi
peringatan kepada orang-orang Sikhem. Melalui perumpamaan
pemimpin pohon-pohon, ia ingin menyatakan bahwa Abimelekh adalah
pemimpin yang nantinya akan menjadi bumerang, berbalik menyakiti
rakyat yang telah mendukung dia (ayat 7-15). Bila ia adalah
seorang yang baik dan berpotensi, ia tentu tidak akan bernafsu
mewujudkan ambisi negatif melainkan akan memilih untuk berkarya
bagi rakyat.
Memilih seorang pemimpin rakyat memang tidak bisa sembarangan. Perlu
pertimbangan matang. Pilih pemimpin yang bukan hanya ingin
menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya, walau kita termasuk
kelompok yang mendukung dia. Pertimbangkanlah pemimpin yang
memiliki hati untuk kesejahteraan dan kemajuan rakyat.
|