Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Hakim 15:1-20
< Mei
2008
>
M S S R K J S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Kamis, 29 Mei 2008

Judul: Menjadi musuh saudara seiman
Karena tidak dapat bertemu dengan istrinya dan karena istrinya telah diberikan kepada orang lain, Simson jadi mengamuk (ayat 1-8). Ia membakar ladang-ladang gandum dan pohon zaitun milik orang Filistin. Kerugian besar yang dideri-ta oleh orang Filistin akibat ulah Simson ini, membuat mereka ingin menuntut balas. Mereka memburu Simson dan mengintai daerah Yehuda. Orang-orang Yehuda yang ketakutan kemudian mencari tahu sebab musabab penyerbuan itu. Alhasil tiga ribu orang Yehuda segera pergi memburu Simson.

Betapa kompromistisnya Yehuda dalam menanggapi Filistin. Bukan memberi dukungan, mereka malah berdiri di pihak Filistin dan ikut mengejar Simson. Padahal ancaman orang Filistin hanya ditujukan kepada Simson, bukan kepada mereka. Mereka marah karena menurut mereka, tindakan Simson membahayakan hidup mereka (ayat 11-13). Tak ada dalam pikiran mereka, bahwa tindakan Simson merupakan perlawanan terhadap musuh umat Allah. Mereka tak peduli bahwa Simson diutus Allah untuk melepaskan mereka dari kekuasaan Filistin. Rupanya mereka sudah merasa nyaman hidup di bawah kekuasaan Filistin. Tak heran bila kemerdekaan sebagai umat Allah tak lagi menjadi mimpi mereka.

Tindakan dan motivasi Simson memang tidak selalu baik, tetapi dengan menghajar orang Filistin sesungguhnya ia sedang melakukan kehendak Allah. Sebab itu, Simson tidak mau menyerang orang Yehuda yang menangkap dia. Meski dengan membelenggu Simson berarti orang Yehuda sedang bertindak sebagai musuh, tetapi ia memperlakukan Yehuda dengan baik karena ia tahu bahwa mereka adalah umat Allah. Namun Yehuda lebih suka mematuhi perintah para penindas ketimbang mendukung pembebas mereka.

Orang memang cenderung memihak yang menguntungkan ketimbang yang benar. Akan tetapi, apakah semua tindakan semata-mata didasarkan pada kepentingan diri. Lalu kapankah kita, sebagai orang yang telah dibenarkan, berpihak pada kebenaran, meski tidak menguntungkan diri?

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini