|
Judul: Menjadi musuh saudara seiman
Karena tidak dapat bertemu dengan istrinya dan karena istrinya telah
diberikan kepada orang lain, Simson jadi mengamuk (ayat 1-8). Ia
membakar ladang-ladang gandum dan pohon zaitun milik orang
Filistin. Kerugian besar yang dideri-ta oleh orang Filistin
akibat ulah Simson ini, membuat mereka ingin menuntut balas.
Mereka memburu Simson dan mengintai daerah Yehuda. Orang-orang
Yehuda yang ketakutan kemudian mencari tahu sebab musabab
penyerbuan itu. Alhasil tiga ribu orang Yehuda segera pergi
memburu Simson.
Betapa kompromistisnya Yehuda dalam menanggapi Filistin. Bukan
memberi dukungan, mereka malah berdiri di pihak Filistin dan
ikut mengejar Simson. Padahal ancaman orang Filistin hanya
ditujukan kepada Simson, bukan kepada mereka. Mereka marah
karena menurut mereka, tindakan Simson membahayakan hidup mereka
(ayat 11-13). Tak ada dalam pikiran mereka, bahwa tindakan
Simson merupakan perlawanan terhadap musuh umat Allah. Mereka
tak peduli bahwa Simson diutus Allah untuk melepaskan mereka
dari kekuasaan Filistin. Rupanya mereka sudah merasa nyaman
hidup di bawah kekuasaan Filistin. Tak heran bila kemerdekaan
sebagai umat Allah tak lagi menjadi mimpi mereka.
Tindakan dan motivasi Simson memang tidak selalu baik, tetapi dengan
menghajar orang Filistin sesungguhnya ia sedang melakukan
kehendak Allah. Sebab itu, Simson tidak mau menyerang orang
Yehuda yang menangkap dia. Meski dengan membelenggu Simson
berarti orang Yehuda sedang bertindak sebagai musuh, tetapi ia
memperlakukan Yehuda dengan baik karena ia tahu bahwa mereka
adalah umat Allah. Namun Yehuda lebih suka mematuhi perintah
para penindas ketimbang mendukung pembebas mereka.
Orang memang cenderung memihak yang menguntungkan ketimbang yang
benar. Akan tetapi, apakah semua tindakan semata-mata didasarkan
pada kepentingan diri. Lalu kapankah kita, sebagai orang yang
telah dibenarkan, berpihak pada kebenaran, meski tidak
menguntungkan diri?
|