|
Judul: Mau jadi pemimpin?
Bangsa Israel secara tidak langsung menganut sistem pemerintahan
yang bersifat teokrasi. Karena meskipun ada raja yang memerintah
mereka, raja tetap harus tunduk kepada Allah. Rakyat pun, baik
secara langsung maupun tidak langsung, harus tunduk juga pada
Allah.
Dalam pemerintahan teokratis, raja tahu bahwa kemenangan yang
diperoleh di dalam peperangan merupakan anugerah Allah. Allah
memberkati raja dengan kehadiran-Nya dan memahkotai dia dengan
sukacita. Allah juga tidak membiarkan dia turun takhta (ayat 7).
Barangsiapa yang tidak tunduk pada pemerintahan raja yang
diurapi Allah akan dianggap sebagai musuh Allah sendiri (ayat
9-13). Maka raja dan rakyat akan bersukacita dan memuji-muji
Allah karena Dialah yang sesungguhnya telah menjadi Raja mereka
(ayat 14). Sebagai respons, raja menaruh percaya kepada Tuhan.
Itulah Daud. Berkali-kali saat menghadapi orang Filistin, Daud
bertanya pada Tuhan: apakah ia harus maju? Apakah Tuhan akan
memberikan kemenangan? (ayat 1Sam. 23:2, 4; 1Sam. 30:8, 2Sam.
5:19). Bahkan setelah kemenangan yang dia raih, Daud tetap
menunjukkan kepercayaan dan ketergantungannya pada Tuhan dengan
kembali bertanya (ayat 2Sam. 5:23). Dengan ketaatan, ia
melakukan apa yang ditunjukkan Tuhan.
Seorang pemimpin bangsa memang seharusnya memercayai Allah dan hidup
takut akan Dia, karena sesungguhnya Allah sajalah yang berdaulat
atas negara dan rakyat yang dia pimpin. Namun terlalu banyak
pemimpin yang memercayai dirinya sendiri dalam hal kepiawaian
berstrategi, kharisma dalam memimpin rakyat, kepopuleran untuk
menarik hati rakyat, atau karena peroleh dukungan militer. Akan
tetapi, Allah berada di atas semua itu. Jika Anda ingin jadi
pemimpin, atau sedang menyusun langkah dan mempersiapkan diri
untuk itu, jadikanlah Tuhan sebagai yang utama dalam hidup Anda.
Bergantunglah hanya kepada Dia dalam setiap aspek hidup Anda.
Hikmat-Nya adalah kekuatan terbaik yang dapat Anda miliki.
|