|
Judul: Merayakan kemenangan
Luapan sukacita umat Israel sungguh tak terbendung. Kemenangan yang
datang dari Allah dirayakan, disaksikan, dan digemakan melalui
puisi dan nyanyian yang indah. Nyanyian Debora merupakan psuisi
dalam PL yang konon dianggap paling tua dan paling sering
dinyanyikan. Ada tiga bagian penting yang bisa kita simak dalam
puisi ini.
Bagian pertama (ayat 1-18) adalah pujian bagi Tuhan yang memberikan
kemenangan. Israel mengakui bahwa kemenangan itu mereka peroleh
bukan dari kekuatan atau senjata yang mereka miliki (ayat 8).
Kemenangan itu juga yang menandai bangkitnya rasa solidaritas
Israel untuk bersama berjuang. Semaraknya dukungan terhadap
Debora dan Barak datang dari berbagai suku dan tingkatan sosial,
walaupun ada juga suku-suku yang meragukannya (ayat 14-18).
Bagian kedua (ayat 19-27), melukiskan kekalahan musuh secara tragis
dan dramatis. Peristiwa sungai Kison di sini menjadi lebih jelas
dari pasal sebelumnya. Dengan puitis, dilukiskan benda-benda
langit seolah-olah berlarian turun, meninggalkan tempatnya dan
ikut dalam peperangan melawan Sisera. Awan gelap dan curahan
hujan lebat membuat sungai Kison meluap seketika dan
menghanyutkan kereta perang dan pasukan Sisera yang gagah
perkasa itu (ayat 20-21). Yael, istri Heber pun dipuji karena
kecerdikan dan keberaniannya mengecoh Sisera saat bersembunyi di
rumahnya. Ia bertindak tepat waktu merobohkan Sisera dengan
tangannya.
Bagian ketiga (ayat 28-31), melukiskan kecemasan, kesedihan, dan
kehampaan ibu Sisera yang menantikan putranya pulang. Semua
musuh Tuhan akan binasa, tetapi orang yang mengasihi Tuhan akan
terbit dalam kemegahan (ayat 31).
Seharusnya setiap saat kumandang pujian atas Tuhan bergema dalam
hidup orang percaya karena kemenangan demi kemenangan atas
berbagai pencobaan dan kuasa dosa yang dialaminya. Namun
kemenangan itu baru dapat dinikmati bila setiap saat pula
anak-anak Tuhan hidup bersandarkan anugerah-Nya.
|