|
Judul: Ujian iman dan berkat yang mengalir
Seperti api memurnikan emas, Allah memurnikan iman Abraham lewat
situasi sulit. Pagi itu, Abraham memulai tindakan ketaatan
terbesar dalam catatan sejarah hidupnya. Dalam tahun yang lewat,
ia sudah banyak belajar untuk menaati Allah. Kali ini
ketaatannya menjadi sempurna.
Mengapa Allah meminta Abraham mengorbankan manusia? Padahal Allah
mengutuk bangsa kafir mempraktikkan pengorbanan manusia (Im.
20:1-5). Sebenarnya Allah tidak menginginkan kematian Ishak,
melainkan ingin menguji apakah kasih Abraham lebih besar kepada
pemberian Allah (Ishak, anak tunggalnya) atau kepada Sang
Pemilik hidup. Tujuan dari ujian iman adalah memperkuat karakter
dan memperdalam komitmen kita kepada Allah, sekaligus memahami
waktu-Nya yang tepat. Melalui pengalaman berat ini, Abraham
memperteguh komitmennya dalam menaati Allah. Pemeliharaan Allah
sempurna, mengatasi segala kebimbangannya. Memang berat untuk
melepaskan apa atau siapa yang sangat kita kasihi. Namun saat
kita memberikan kepada Allah apa yang Ia kehendaki, yang Ia
kembalikan ternyata lebih dari apa yang dapat kita bayangkan.
Keuntungan rohani dari berkat-berkat-Nya selalu melebihi segala
pengorbanan kita. Karena iman dan ketaatannya, berkat bagi
Abraham berlimpah. Keturunan Abraham diberikan kemampuan untuk
menaklukkan musuh-musuh (ayat 17), bahkan mereka akan memberkati
dunia. Janji Allah kepada Abraham benar dan sudah digenapi.
Keselamatan datang melalui keturunannya, Israel, dan secara
khusus melalui Tuhan Yesus Kristus.
Sangat sering kita berpikir bahwa berkat-berkat Allah adalah sebatas
pemberian-pemberian-Nya yang mengagumkan untuk dinikmati
sendiri. Namun kita belajar dari perjalanan kehidupan iman
Abraham bahwa pada saat Allah memberkati, berkat-Nya ternyata
selalu ditujukan agar mengalir kepada banyak orang. Sudahkah
kita membuka diri kepada Allah agar berkat-Nya mengalir melalui
kita untuk orang lain?
Pengantar Kitab
Hakim-Hakim
Kitab Hakim-hakim melanjutkan kitab Yosua dengan mengisahkan suatu
masa kelam dalam kehidupan bangsa Israel sebelum mereka menjadi
kerajaan. Kisahnya dimulai dengan kematian Yosua dan upaya yang
tidak tuntas membersihkan keseluruhan tanah Kanaan untuk
dijadikan tanah pusaka milik Israel. Justru karena mereka tidak
total menghapuskan bangsa-bangsa Kanaan tersebut, kini mereka
menuai akibat yang fatal. Hakim-Hakim mencatat bagaimana
penduduk Kanaan dengan dewa-dewi sesembahan mereka menjerat
Israel ke dalam dosa penyembahan berhala dan dengan demikian
berzina rohani terhadap Tuhan. Hakim-Hakim mencatat bagaimana
Tuhan memakai bangsa-bangsa di sekeliling Israel untuk menindas
mereka sebagai hukuman atas ketidaksetiaan mereka. Namun kitab
ini juga mengisahkan kemurahan hati dan betapa panjang sabar-Nya
Allah, yang berkali-kali mengampuni dan memulihkan umat-Nya,
walau berkali-kali juga Ia dikhianati mereka.
Selepas dua pasal pengantar, kisah periode ini dipaparkan dengan
memperlihatkan suatu pola berulang dari satu masa pelayanan
seorang hakim ke hakim yang lainnya. Pola itu selengkapnya
adalah sbb.: 1. Israel berdosa di hadapan Tuhan. 2. Tuhan
menyerahkan mereka kepada musuh. 3. Israel berteriak kepada
Tuhan minta pelepasan. 4. Tuhan membangkitkan seorang
penyelamat. 5. Penyelamat itu melepaskan Israel dari penindasan
musuh. 6. Selama penyelamat itu hidup, Israel mengalami
kelegaan. Kitab ini ditutup dengan 5 pasal yang memperlihatkan
kecenderungan degradasi Israel dalam aspek keagamaan dan moral
mereka. Seperti bangsa yang tidak ada rajanya, mereka menjadi
liar dan tak terkendali.
Hakim-hakim memperlihatkan kepada kita, bagaimana Allah bertindak
dengan adil kepada umat yang tidak setia melalui penghukuman.
Namun Ia tidak pernah menarik anugerah-Nya dari umat-Nya.
Anugerah inipun terlihat dari pemilihan-Nya terhadap para
penyelamat Israel. Selain Otniel, yang tidak dikomentari
karakternya, setiap hakim yang lain menunjukkan kelemahan mereka
masing-masing. Bahkan hakim terakhir yang dicatat di kitab ini
(Simson), tampaknya bukan pemimpin rohani sama sekali.
|