|
Judul: Waspadai jerat
Saat kita lengah, dengan mudah kita akan terperangkap ke dalam
jerat. Jerat awalnya bisa berupa hal sepele, hal kecil, atau hal
yang biasa-biasa saja. Bentuknya pun tidak selalu menakutkan
bahkan seringkali bisa menarik hati. Namun jerat bisa membawa
kita kepada situasi yang berbahaya. Itulah yang dialami Gideon
dan umat Israel setelah kemenangannya yang gemilang mengalahkan
musuh-musuhnya.
Waktu menghadapi suku Efraim yang sangat tersinggung karena merasa
tidak dilibatkan sejak awal peperangan, Gideon dengan bijaksana
meredakan kemarahan mereka (ayat 1-3). Namun saat mengalami
kelelahan oleh karena mengejar musuh, Gideon lengah dengan
pengendalian dirinya sehingga dikuasai oleh amarah. Ia bertindak
kejam dan melakukan pembalasan dendam yang tidak pada tempatnya
kepada mereka yang menolak membantu dia dalam mengalahkan musuh
(ayat 4-9, 13-17).
Setelah kemenangan besar, kerendahan hati Gideon sungguh nyata
dengan menolak permintaan rakyat untuk menjadikan dia raja untuk
memerintah atas mereka. Gideon menunjukkan pemahaman iman yang
benar bahwa hanya Tuhanlah yang berhak dan layak menjadi RAJA
atas umat-Nya, Israel (ayat 23). Namun ia lengah dengan
keinginan menjadi orang dihormati. Harta rampasan yang begitu
melimpah membuat hati Gideon ternggiurkan hatinya (ayat 24-26).
Dari harta tersebut ia membuat efod. Efod adalah jubah imam yang
bisa dipakai untuk mencari kehendak Tuhan (lih. Kel. 28:28-30).
Gideon tidak memiliki hak untuk membuat apalagi memakainya.
Akhirnya efod itu menjadi berhala yang menyimpangkan Israel dari
Tuhan (ayat 27).
Hidup anak Tuhan memang selalu melawan arus dunia yang mencari
kenikmatan sementara dan penghormatan semu. Semua hal itu bisa
menjadi jerat yang membawa kita jatuh dalam dosa. Hanya satu
cara untuk menangkalnya, yakni fokuskan hidup kita pada Tuhan
dan kehendak-Nya.
|