Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Kejadian 2:18-25
< April
2008
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Jumat, 4 April 2008

Judul: Diciptakan setara
Bila dalam kisah penciptaan pertama secara konseptual sudah dijelaskan bahwa pria dan wanita diciptakan setara sebagai gambar Allah (Kej. 1:27), maka di bagian ini, proses penciptaan wanita ditunjukkan untuk memperlihat-kan kesetaraan itu.

Pertama, wanita diciptakan untuk menjadi penolong yang sepadan (ayat 18). Mengapa? Karena tugas manusia untuk mengelola taman Eden bukan untuk dikerjakan sendirian. Semua binatang yang diciptakan Allah sebelum manusia pertama dijadikan, tidak dapat disepadankan dengan dirinya (ayat 20). Maka wanita diciptakan sebagai "penolong yang sepadan" untuk mendampingi manusia itu dalam menunaikan tugas mulia tersebut. Penolong sering dimengerti sebagai sekadar asisten yang berstatus lebih rendah daripada yang ditolong. Padahal kata yang sama digunakan juga untuk menyatakan bahwa Allah adalah penolong Israel (Ul. 33:26). Oleh karena itu, penolong di sini justru memiliki fungsi komplementer artinya saling melengkapi. Wanita diciptakan untuk melengkapi pria, sehingga keduanya dapat mewujudkan karya pemeliharaan Allah bagi dunia ini.

Kedua, wanita diciptakan dari rusuk pria. Itu sebabnya manusia itu bisa menyatakan tentang pasangannya, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku ..." (ayat 23). Ada tekanan tengan kesatuan esensi pria dan wanita. Kesatuan esensi inilah yang mendorong adanya persatuan suami istri yang melebihi sekadar persatuan tubuh (seks), melainkan juga dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Kesetaraan inilah yang harus mendasari pernikahan Kristen. Pria dan wanita yang sama derajat di hadapan Allah memberi diri dipersatukan agar dapat dipakai Allah untuk menjadi alat anugerah-Nya bagi dunia ini. Persatuan ini harus dipelihara dengan tetap saling memberi diri sebagai wujud saling melengkapi, serta menjaga keterbukaan satu sama lainnya (ay. 25, "keduanya telanjang, ... tetapi mereka tidak merasa malu").

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini