|
Judul: Pemimpin yang dipakai Tuhan
Tuhan bekerja menolong umat-Nya secara unik. Ia bisa memakai
pahlawan perkasa, tetapi juga orang biasa-biasa untuk mencapai
maksud-Nya. Tuhan bisa memakai peperangan biasa, ataupun
strategi tipu daya ala Ehud, juga lewat peristiwa yang sepintas
tidak masuk akal.
Tuhan memakai Debora, yang saat itu menjadi hakim dan sekaligus
\'ibu\' bagi orang Israel yang datang mencari pertolongan (band.
Hak. 5:7). Sebagai pemimpin rohani bagi umat-Nya, ia peka akan
hati Allah. Ia tahu persis waktu pembebasan Tuhan akan segera
tiba. Ia sadar bahwa sebagai wanita ia memiliki keterbatasan
dalam hal kemampuan perang. Namun ia tahu siapa yang tepat untuk
memimpin perang. Maka ia memanggil Barak (ayat 6-7).
Sebaliknya, Barak ternyata tidak berani maju tanpa dukungan Debora
(ayat 8). Apakah ketidakberanian Barak maju sendiri semata
kerendahan hatinya, menghormati Debora yang lebih berkharisma,
ataukah karena ia kurang beriman? Yang jelas, sikap Barak
seperti itu membuat kehormatan dalam memenangkan perang akan
jatuh ke tangan seorang wanita (ayat 9). Benar saja, Tuhan
memakai duet Debora-Barak untuk membuat tentara Yabin kocar
kacir. Yang sangat tidak terduga, kemenangan yang menuntaskan
peperangan ini justru datang dari seorang ibu rumah tangga
sederhana, Yael, istri Heber, orang Keni.
Di balik kemenangan Israel atas Yabin dan panglimanya Sisera, kita
tahu bahwa Tuhan yang berkarya (ayat 15). Debora yang peka,
Barak yang bimbang, maupun Yael yang tidak pernah bermimpi akan
terlibat, merupakan alat-alat Yang Mahakuasa. Saat mereka peka
pimpinan Tuhan dan bersedia untuk Dia pakai, maka kemenangan pun
tidak lagi mustahil.
Laskar Kristus biasanya terdiri dari orang-orang yang tidak
sempurna, sederhana, penuh kelemahan, bahkan sering pula kurang
beriman. Namun, kemenangan melawan musuh bukan ditentukan oleh
siapa orang-orangnya, melainkan siapa Panglimanya.
|