|
Judul: Tuhan mengajar Abram beriman
Tetap taat dan berharap pada janji Tuhan memang tidak mudah, apalagi
di saat susah. Saat itu Kanaan dilanda kelaparan. Sementara
mereka yang tinggal di Mesir memiliki suplai makanan berlebih
ketimbang negeri lain. Ini disebabkan keberadaan Sungai Nil yang
memberi andil besar bagi irigasi dan pertanian di Mesir. Maka
untuk sementara waktu Abram pindah ke Mesir, menantikan
kesempatan baru (ayat 10). Di Mesir ternyata Abram bukan hanya
mendapati makanan, tetapi juga pembelajaran berharga tentang
makna mengimani janji Tuhan.
Karena takut dibunuh, Abram meminta Sarai mengatakan separuh
kebenaran dengan mengaku diri sebagai adiknya. Memang Sarai
masih famili dengannya (Kej. 20:12), tetapi Sarai juga
isterinya. Mungkin Abram berpikir bahwa dengan cara yang
ditempuhnya ini, janji Tuhan (Kej. 12:2) akan tergenapi? Mungkin
Abram berpikir bahwa untuk menjadi bangsa besar, masyhur, dan
menjadi berkat untuk bangsa lainnya adalah melalui kompromi
dengan Mesir dan memberikan Sarai sebagai isteri Firaun? Fokus
iman Abram rupanya telah bergeser! Di tengah kendala yang dia
hadapi, sumber selamat dan hidupnya bukan lagi pada Tuhan,
tetapi pada Sarai! (ayat 13). Keputusan Abram untuk berbohong
mengindikasikan iman yang bimbang terhadap pemeliharaan dan
perlindungan Tuhan. Namun Tuhan setia. Ia mengajar Abram untuk
tidak menggeser fokus keselamatan dan kehidupannya pada Sarai.
Hidup beriman harus senantiasa diisi oleh ketaatan dan pengharapan
yang berpusat kepada Tuhan. Kita percaya bahwa ada bagian Tuhan
dan ada bagian kita dalam perjalanan pemenuhan janji Tuhan dalam
hidup ini. Tuhan memelihara, melindungi, dan menuntun kita
menurut rencana-Nya yang baik bagi kehidupan anak-anak yang Dia
kasihi. Bagian kita adalah percaya, taat, dan berharap akan
pemeliharaan dan perlindungan-Nya, walau menghadapi kesulitan.
Pada saat menemui tantangan dalam hidup beriman, jangan biarkan
ketakutan dan dusta mengaburkan iman sejati kepada Tuhan.
|