Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Kejadian 2:4-17
< April
2008
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Kamis, 3 April 2008

Judul: Pribadi yang diciptakan
Kisah penciptaan kedua ini mengambil pendekatan yang berbeda. Kisah penciptaan ini memperlihatkan fokus Allah pada manusia. Nama Allah yang dipakai sekarang menjadi TUHAN Allah, yaitu Yahweh Elohim. Nama Yahweh digunakan dalam kitab Kejadian dalam konteks relasi Allah dengan manusia, dan nantinya secara khusus dengan umat pilihan-Nya.

Dalam kisah penciptaan yang pertama, Allah berfirman maka segala sesuatu menjadi ada. Dalam pasal kedua ini, kegiatan Allah dalam penciptaan yang disoroti. Kita melihat manusia sebagai karya tangan Allah. Allah sendiri yang membentuk manusia dari debu tanah, lalu dihembuskan napas kehidupan (ayat 4-7). Allah kemudian membangun bagi manusia taman Eden, suatu tempat kehidupan yang asri dan harmonis (ayat 8-14). Dan nanti, dalam perikop sesudah ini (ayat 18-25), kita memperhatikan kegiatan Allah membentuk wanita, sebagai pasangan serasi manusia.

Manusia menjadi pusat perhatian Allah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk paradoks. Manusia adalah pribadi yang diciptakan. Ia adalah makhluk yang tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Namun dalam kapasitas sebagai gambar Allah, manusia adalah pribadi yang memiliki kebebasan untuk memilih, baik untuk tunduk pada Allah atau melepaskan diri dari Dia. Tentu saja dengan konsekuensi tertentu. Manusia diberi pilihan untuk taat pada tugas yang diberikan Allah yaitu mengelola taman Eden (ayat 15) dan untuk menahan diri dari apa yang sudah ditetapkan Allah agar tidak dilakukan manusia (ayat 16-17).

Godaan terbesar manusia adalah menolak bergantung pada Sang Pencipta, dan berusaha hidup dengan kekuatan dan kebijakannya sendiri. Hasilnya fatal karena meninggalkan Allah berarti melepaskan diri dari sumber hidup. Kita yang sudah ditebus oleh darah Yesus dan menjadi milik Allah lagi, harus menjalankan hidup dengan memberikan kesaksian pada dunia ini bahwa kita adalah milik Allah.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini