|
Judul: Bagaimana jika ...?
Kita dapat membayangkan ketakutan-ketakutan yang ada dalam benak
Abram. "Bagaimana jika raja-raja di Timur balas dendam setelah
kukalahkan?" (Kej. 14:1-24) "Bagaimana dengan hartaku,
penerusku?" (ayat 2-3).
Ketakutan Abram cukup beralasan. Menurut tradisi waktu itu, jika
Abram mati tanpa anak laki-laki, maka hambanya yang tertua akan
jadi pewarisnya. Meskipun Abram mengasihi hambanya, ia
menginginkan anaknya sendirilah yang meneruskan garis
keluarganya. Di tengah kekhawatiran itu, Tuhan bertindak. Tuhan
menolong dan menguatkan. Tuhan berjanji melindungi Abram dan
memberikan upah yang sangat besar kepadanya (ayat 1). Tuhan
memang tidak menjanjikan kekayaan dan ketenaran. Ia menjanjikan
apa yang menjadi jawaban dari kekhawatiran Abram, yaitu:
keturunan sebanyak bintang di langit (ayat 5) dan pasir di laut
(Kej. 22:17). Bukan hanya menjanjikan, Tuhan juga meneguhkan
janji tersebut lewat upacara yang serius (ayat 9-21). Mendengar
janji Tuhan, "Bagaimana jika..."-nya Abram berubah menjadi "Aku
percaya Tuhan!" (ayat 6). Walau Abram menunjukkan imannya
melalui tindakan, ternyata imannyalah yang membuat Abram benar
di hadapan Tuhan (Lih. Rm. 4:1-5).
Kita dapat memiliki hubungan yang benar dengan Allah dengan percaya
kepada Dia. Tindakan lahiriah kita, dengan hadir di gereja,
berdoa, berbuat baik, dsb. bukan dengan sendirinya membuat kita
benar di hadapan Allah. Hubungan yang benar dengan Allah selalu
dilandasi oleh iman. Iman adalah keyakinan terdalam bahwa Allah
adalah Ia yang telah berkata-kata, dan akan melakukan apa yang
telah Ia katakan. Tindakan-tindakan baik dan benar yang
dilakukan akan mengikuti keyakinan iman kita sebagai hasil
sampingan saja.
Jika ada pertanyaan-pertanyaan "Bagaimana jika...?" dalam hidup kita
dan mengakibatkan ketakutan-ketakutan yang menurut kita
beralasan dan mengkhawatirkan, serahkanlah hidup kita kepada
TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak (Mzm.
37:5).
|