|
Judul: Keraguan Abraham
Memang tidak mudah meniti hidup beriman. Sebagai ciptaan Allah yang
diciptakan dengan kemampuan bernalar, kerapkali yang lebih
condong muncul dalam tindakan sehari-hari adalah keragu-raguan.
Tidak ada yang salah dengan keragu-raguan. Kalau kita ragu itu
berarti kita telah menjalankan karunia Allah yang berharga
berupa kemampuan menyeleksi dan memilih. Tanpa kemampuan ini,
orang menjadi seperti mesin saja: tekan ini keluar ini, tekan
itu keluar itu. Allah tidak memberikan janji-Nya kepada mesin.
Tidak ada komunikasi dan hubungan yang akrab dengan sebuah
mesin, meski mesin yang sangat canggih sekalipun. Allah menjalin
hubungan dan komunikasi yang akrab dengan gambar-Nya, yang bisa
ragu, bisa kecewa, penuh pemikiran dan pertimbangan. Namun
keraguan yang benar menurut ajaran Alkitab bukanlah keraguan
yang kebablasan. Mesti ada batas pada keraguan itu agar kita
tiba pada kesimpulan memilih pilihan yang terakhir dengan
keyakinan penuh. Saat itu terjadi, iman menemukan kesejatiannya.
Iman yang bertumbuh dewasa.
Abraham meragukan Allah. Menurut Abraham "sangat luar biasa sekali"
jika ia dan Sara di usia senja mereka dapat memiliki anak.
Abraham, orang yang dipertimbangkan benar karena imannya,
mengalami kesulitan memercayai janji Allah kepada dia. Namun
Abraham tidak kebablasan. Di balik segala keraguannya, Abraham
akhirnya mengikuti perintah Allah (ayat 22-27). Abraham
memutuskan untuk tiba pada satu titik, yakni memilih dengan
seyakin-yakinnya, bahwa janji Allah tidak pernah
mengecewakannya.
Jika orang sekelas Abraham ternyata memiliki keraguan juga, jangan
heran kalau kita kadang ragu dalam beriman. Pada saat Allah
menghendaki apa yang mustahil dan kita mulai meragukan
pimpinan-Nya, jadilah seperti Abraham. Pilihlah untuk mengakhiri
keraguan dengan memfokuskan diri pada komitmen Allah yang telah
membuktikan Diri-Nya setia, dan bahwa Dia akan menggenapi
janji-Nya.
|