Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Santapan Harian > Kejadian 17:15-27
< April
2008
>
M S S R K J S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      


Cari di Arsip e-Santapan Harian Cari di e-SH
Lihat Arsip e-Santapan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Santapan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs In-CHRIST.net

Sabtu, 12 April 2008

Judul: Keraguan Abraham
Memang tidak mudah meniti hidup beriman. Sebagai ciptaan Allah yang diciptakan dengan kemampuan bernalar, kerapkali yang lebih condong muncul dalam tindakan sehari-hari adalah keragu-raguan. Tidak ada yang salah dengan keragu-raguan. Kalau kita ragu itu berarti kita telah menjalankan karunia Allah yang berharga berupa kemampuan menyeleksi dan memilih. Tanpa kemampuan ini, orang menjadi seperti mesin saja: tekan ini keluar ini, tekan itu keluar itu. Allah tidak memberikan janji-Nya kepada mesin. Tidak ada komunikasi dan hubungan yang akrab dengan sebuah mesin, meski mesin yang sangat canggih sekalipun. Allah menjalin hubungan dan komunikasi yang akrab dengan gambar-Nya, yang bisa ragu, bisa kecewa, penuh pemikiran dan pertimbangan. Namun keraguan yang benar menurut ajaran Alkitab bukanlah keraguan yang kebablasan. Mesti ada batas pada keraguan itu agar kita tiba pada kesimpulan memilih pilihan yang terakhir dengan keyakinan penuh. Saat itu terjadi, iman menemukan kesejatiannya. Iman yang bertumbuh dewasa.

Abraham meragukan Allah. Menurut Abraham "sangat luar biasa sekali" jika ia dan Sara di usia senja mereka dapat memiliki anak. Abraham, orang yang dipertimbangkan benar karena imannya, mengalami kesulitan memercayai janji Allah kepada dia. Namun Abraham tidak kebablasan. Di balik segala keraguannya, Abraham akhirnya mengikuti perintah Allah (ayat 22-27). Abraham memutuskan untuk tiba pada satu titik, yakni memilih dengan seyakin-yakinnya, bahwa janji Allah tidak pernah mengecewakannya.

Jika orang sekelas Abraham ternyata memiliki keraguan juga, jangan heran kalau kita kadang ragu dalam beriman. Pada saat Allah menghendaki apa yang mustahil dan kita mulai meragukan pimpinan-Nya, jadilah seperti Abraham. Pilihlah untuk mengakhiri keraguan dengan memfokuskan diri pada komitmen Allah yang telah membuktikan Diri-Nya setia, dan bahwa Dia akan menggenapi janji-Nya.

Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini