|
Judul: Strategi peperangan
Didalam peperangan, diperlukan suatu strategi agar kemenangan dapat
diraih. Baik perang jasmani, apalagi perang rohani. Israel
menghadapi tugas berperang yang bukan hanya jasmani semata,
tetapi juga rohani. Oleh karena itu mereka memerlukan juga
penyertaan Tuhan.
Israel memulai dengan baik. Mereka mencari pimpinan Tuhan dan Tuhan
menjanjikan penyertaan-Nya (ayat 1-2). Israel berperang dengan
strategi. Suku Yehuda yang lebih dahulu diperintahkan Tuhan
untuk berperang, mengajak suku Simeon untuk bekerja sama (ayat
3). Bahkan kita melihat kaum Keni, dari keturunan ipar Musa,
ikut membantu peperangan (ayat 16). Ini merupakan strategi
perang yang baik sekali. Dengan bekerja sama maka pekerjaan
berat menjadi ringan. Alangkah indahnya kalau anak-anak Tuhan
ketika harus menghadapi tantangan iman, tidak berjuang sendirian
tetapi bersama dengan saudara seiman saling menguatkan dan
menopang.
Strategi kedua yang dijalankan suku Yehuda adalah dengan
memercayakan peperangan pada pemimpin yang tangguh dan
berdedikasi. Yehuda memiliki Kaleb, tokoh tua sepantar almarhum
Yosua. Ia masih gagah untuk memimpin Yehuda menduduki wilayah
demi wilayah yang menjadi hak Yehuda. Yehuda juga memiliki tokoh
muda, seperti Otniel, keponakan Kaleb. Dengan keperkasaannya,
sebagian wilayah musuh pun ditaklukkan. Inilah strategi yang
baik, menggunakan secara tepat kemampuan yang dimiliki
orang-orang tertentu.
Wilayah pegunungan sudah tuntas ditaklukkan. Namun ternyata di
wilayah lembah masih ada musuh yang bertahan (ayat 19). Ini
mengingatkan kita bahwa peperangan rohani itu tidak boleh
berhenti sebelum tuntas. Tuhan pasti menyertai, strategi baik
pasti membantu, tetapi ketekunan dan kerja keras tetap menjadi
tanggung jawab setiap anak Tuhan dalam peperangan rohaninya.
Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus memanfaatkan maksimal
karunia dan talenta untuk pekerjaan Tuhan.
|