|
Judul: Saat mengalami derita
Kehidupan Kristen bukan hanya terdiri dari pengalaman manis yang
indah untuk dikenang. Pasti ada juga pengalaman pahit yang
menghadirkan duka dan penderitaan. Namun bagaimana kita
menyikapi pengalaman pahit?
Di dalam intensitas penderitaan yang pemazmur alami, tidak ada
tempat lain baginya untuk mengadukan kepedihan yang dia alami,
selain kepada Allah. Kepada Dia sajalah, pemazmur mencurahkan
isi hatinya. Pemazmur mempertanyakan Allah yang dia anggap
sebagai penyebab penderitaannya (ayat 1), Allah yang tidak
mendengarkan doanya (ayat 2). Allah meninggalkan dia sendirian,
menyebabkan ia terasing dan kesepian. Ia juga harus menghadapi
musuh yang begitu kejam (ayat 15-19). Padahal sejarah Israel
telah memperlihatkan bagaimana Allah tampil menyelamatkan dan
menjadi Pembela bagi umat-Nya (ayat 4-6). Akibat kontras itulah,
maka banyak orang yang mencibirkan bibir karena menganggap bahwa
penderitaan pemazmur adalah akibat dosanya (ayat 8-9).
Merenungkan situasi yang menyedihkan tersebut, pemazmur kembali
mengalihkan pandangannya pada Allah. Pemazmur meminta agar Allah
tidak menjauhi dia (ayat 12).
Penderitaan hidup memang tampil dalam berbagai bentuk. Mungkin saja
berupa perlawanan dari teman atau orang yang kita kasihi, bisa
juga berupa pengalaman fisik atau mental yang menyakitkan, atau
kegagalan yang menyebabkan rasa frustasi yang dalam. Namun semua
itu harus dipandang berdasarkan perspektif yang tepat.
Pengalaman orang Kristen bukanlah nasib buruk yang melulu
menyebabkan kesedihan dan penderitaan. Meski demikian, pencobaan
(Yak. 1:2-4, 12), penganiayaan (Yoh. 15:18; 2Tim. 2:12), dan
penderitaan (Flp. 1:29) merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari pengalaman hidup orang Kristen. Karena melalui kesusahan,
iman kita diperdalam (Yak. 2:3), persekutuan kita dengan Allah
diperkaya (Flp. 3:10) dan kita mengalami sukacita dalam
kesulitan (Yoh. 17:13; 1Ptr. 4:13; 2Kor. 12:10).
|