|
Judul: Kontrak menguntungkan dengan Allah
Allah membuat perjanjian antara diri-Nya dengan Abram.
Persyaratannya sederhana: Abram harus menaati Allah dan
menyunatkan setiap laki-laki yang ada di dalam komunitasnya
(ayat 9-10). Sedangkan bagian Allah adalah mem-berikan Abram
keturunan, harta milik, kekuasaan, dan kekayaan (ayat 4-8).
Mengapa Allah mengulang janji-Nya ini kepada Abram? Dua kali
sebelumnya Allah sudah menyinggung hal ini (Kej. 12, 15). Di
sini, ternyata Allah lebih fokus. Allah mengungkapkan bagian
spesifik dari janji-Nya: Allah akan memberikan Abram keturunan
yang banyak; banyak bangsa akan lahir dari keturunannya; Allah
akan mempertahankan janji-Nya dengan keturunan Abram; Allah akan
memberikan tanah Kanaan kepada keturunan Abram. Allah juga
merubah nama Abram menjadi Abraham ("bapa bangsa-bangsa"),
sesaat sebelum anak yang dijanjikan dikandung ibunya. Mulai pada
bagian ini, Alkitab menyebut Abram dengan Abraham.
Mengapa sunat? Pertama, sebagai tanda ketaatan kepada Allah di dalam
segala aspek hidup. Kedua, sebagai tanda bahwa orang itu bagian
dari umat perjanjian-Nya. Sekali disunat, tidak bisa dibatalkan
kembali. Orang itu akan diidentifikasikan sebagai seorang Yahudi
selamanya. Ketiga, sebagai simbol dari "memotong" hidup yang
lama karena dosa, menyucikan hati, dan mendedikasikan diri
kepada Allah. Sunat adalah praktik yang unik ketimbang
praktik-praktik keagamaan yang ada pada waktu itu. Praktik ini
memisahkan umat Allah dari umat tetangga mereka yang kafir.
Praktik sunat itu penting dalam membangun penyembahan yang murni
kepada Allah yang Esa.
Kebanyakan perjanjian yang kita kenal mengandung pertukaran yang
bersifat setara. Kita memberikan sesuatu dan sebagai balasannya
mendapatkan sesuatu sesuai dengan nilai yang diberikan. Namun
perjanjian dengan Allah ternyata berbeda. Berkat-berkat yang
diberikan Allah jauh lebih banyak daripada bagian yang harus
diberikan Abram.
|