|
Judul: Otoritas Tuhan
Tuhan tidak membiarkan umat-Nya bermain-main dengan dosa.
Sepeninggal Otniel, Israel kembali "melakukan apa yang jahat di
mata Tuhan" (ayat 12a). Tidak diceritakan apa kejahatan Israel,
tetapi jelas sesuatu yang serius karena komentar itu diulang
lagi (ayat 12c). Oleh karena itu Tuhan harus menghukum mereka.
Dengan sengaja penulis Hakim-Hakim memakai kata "... Eglon, raja
Moab diberi TUHAN kuasa atas orang Israel, ..." (ayat 12b). Ini
berarti hak menghukum ada pada Tuhan, sedangkan Moab yang
bersekutu dengan Amon dan Amalek hanya merupakan alat Allah.
Tindakan kejam yang berlebihan, yang menyimpang dari izin Tuhan
tentu akan menuai hukuman juga. Itu rupanya yang terjadi.
Maka melalui Ehud (ayat 15), Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya untuk
membebaskan Israel dari penindasan Moab, sekaligus menghukum
Eglon. Apakah tindakan Ehud yang memperdaya Eglon hingga tewas
di ujung pedangnya adalah tindakan yang sesuai dengan perintah
Allah? Dengan kata lain, apakah Ehud bertindak \'licik\' ataukah
\'cerdik\'? Beberapa penafsir menyatakan bahwa yang dilakukan Ehud
adalah sah karena situasinya adalah peperangan. Bahwa para musuh
tidak menyadari kalau Ehud bertangan kidal (ayat 15b) bukanlah
kesalahan Ehud. Justru itulah senjata rahasianya. Bahwa Ehud
menyatakan pesan rahasia buat Eglon (ayat 19) bukanlah
kebohongan melainkan kenyataan berita penghukuman Allah.
Tindakan Ehud yang kreatif dibenarkan karena kedaulatan Allah
tidak meniadakan tanggung jawab dan tugas manusia.
Tuhan memakai berbagai cara dan orang untuk menyatakan
kedaulatan-Nya. Berbagai bencana baik yang berskala lokal,
nasional bahkan internasional, seperti perubahan iklim karena
pemanasan global mungkin tanda peringatan bagi umat manusia yang
merusak alam milik-Nya. Mungkin Tuhan \'memakai\' teroris
berkedok agama untuk menyadarkan kepongahan dan kebebalan
gereja.
|