|
Judul: Allah membereskan masalah
Trindakan Sarai yang memberikan Hagar kepada Abram sebagai istri
pengganti merupakan tindakan yang lazim pada zaman mereka. Anak
yang lahir akan diperhitungkan sebagai anak Sarai. Namun
tindakan Sarai dan Abram ini bukanlah tindakan iman. Dengan
mengikuti kebiasaan waktu itu, mereka telah menunjukkan keraguan
akan janji Tuhan.
Pilihan yang ditempuh untuk "menyelesaikan" apa yang dianggap Sarai
sebuah masalah dalam dirinya, justru kemudian menimbulkan
masalah-masalah baru yang cukup serius. Itu terjadi karena
mereka secara serampangan sudah mendahului Allah. Mereka mencoba
menggenapi janji Allah dengan upaya mereka sendiri. Mereka lebih
memilih menjalani waktu mereka ketimbang menanti waktu Allah.
Ujian besar dalam beriman adalah dengan membiarkan Allah bekerja
sesuai waktu-Nya di dalam kehidupan, dan menanti waktu-Nya itu
dengan iman, harapan, dan kasih. Dalam hal penting ini, Sarai
dan Abram telah gagal.
Kita melihat ada tiga orang yang membuat masalah serius di sini: 1)
Sarai, yang mencoba membereskan masalah dirinya dengan
memberikan Hagar menjadi istri Abram (ay. 2-3); 2) Abram, yang
menuruti rencana Sarai, tetapi pada saat masalah lain muncul,
menolak menyelesaikan masalah (ay. 6); dan 3) Hagar, yang
melarikan diri dari masalah (ay. 6). Berhadapan dengan situasi
kacau buatan manusia yang tidak beriman dan tidak sabaran ini,
Allah ternyata adalah Allah yang tetap menyatakan kuasa-Nya
untuk turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan (Rm 8:28). Allah setia pada janji-Nya. Allah menyadari
kekurangan anak-anak-Nya dan tidak membiarkan masalah-masalah
yang mereka hadapi ditanggung sendirian.
Sarai dan Abram pada akhirnya tetap akan mendapatkan anak mereka
sendiri, dan Allah menyelesaikan masalah Hagar meskipun Abram
menolak memberi solusi (ayat 8-15, Kej. 17:20). Ternyata tidak
ada masalah yang terlalu rumit bagi Allah jika kita membiarkan
Dia menolong kita!
|